Suster Wilhelmin, PRR dokter Umum di RSU Naob Timor Tengah Utara. Suster Wilhelmin asal dari desa Nelayan Lamalera Lembata ini, kini berkarya melayani pasien Kusta di kabupaten TTU Nusa Tenggara Timur.
Suster Wilhelmin kepada media dalam arahannya terkait pasien Kusta mestinya menyadari pentingnya mendeteksi gejala awal penyakit kusta. gejala kusta ini juga dapat dideteksi secara mandiri.
“masyarakat awam juga bisa memastikan itu kusta atau tidak.
Untuk itu masyarakat Perlu tahu awal penderita kusta itu gejalanya dimulai dari bercak merah, bercak putih atau bercak hitam. Tanda khasnya adalah mati rasa. Itu khas yang ada pada sakit lepra,” jelas Suster Wilhelmin dari Kongregasi Puteri Reinha Rosari yang aktif bekerja sebagai Dokter Umum di RSU Naob
Menurutnya, gejala kusta yang mudah dikenali oleh masyarakat umum adalah ketidakmampuan merasakan tusukan pada bercak kulit tersebut
Untuk itu Suster Wilhelmin menyarankan agar para pasien Kusta bisa melakukan tusukan kecil dengan peniti atau jarum pada bercak, jika tusukan peniti itu tidak dilakukan maka, penderita perlu diarahkan untuk melakukan pemeriksaan ke laboratorium.
Suster dari Lamalera Lembata ini menambahkan, jika bercak itu diobati dengan obat kulit apapun dan tidak sembuh, maka kondisi itu semakin memastikan terjadinya kusta.
Adapun tingkat selanjutnya dari kusta adalah ketidakmampuan merasakan sakit pada bagian yang terkena, menyebabkan risiko luka bakar atau infeksi yang lebih besar. Syaraf-syarafnya tidak akan terasa. akan terasa kalau sudah menyebar sampai ke tulang”, terang Suster Wilhelmin.
Menurut Suster Wilhelmin tantangan dalam edukasi masyarakat tentang kusta di Timor Tengah Utara. Sejauh ini pihaknya masih mengalami kesulitan untuk edukasi kusta di seluruh wilayah TTU, sehingga pelayanan untuk sementara kita hanya melayani di beberapa desa sekitar Rumah Sakit.
Untuk diketahui, misi Katolik Kongregasi Putri Reinha Rosari Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur, dirintis sejak tahun 1996. Dan berkarya dalam menangani masyarakat yang mengidap penyakit kusta sampai ke seluruh pelosok desa. Hal itu disampaikan Kepala Kongregasi Putri Reinha Rosari, Suster Maria Marcella, PRR Selasa, 23 April 2024.
Ia mengatakan, masyarakat yang mengidap penyakit kusta cenderung malu dengan penyakit yang dideritanya. Masyarakat TTU sangat tertutup dengan dunia luar sehingga perlunya edukasi¸ sosialisasi, penyuluhan karena pemahaman masyarakat akan penyakit kusta masih cenderung minim”,ujar Suster Maria.
Menurut Suster Maria, selama kita melakukan pelayanan penanganan Kusta di kabupaten Timur Tengah Utara juga kita melibatkan yayasan ibu Anfrida untuk memberikan dukungan pemberdayaan ekonomi terhadap pasien penderita kusta. Dan bentuk perhatian yang diberikan Ini merupakan bentuk saling menghargai, menghormati serta memberikan hak-hak bagi mereka khusunya penderita kusta.
Selain itu Kita juga membentuk kelompok perawatan diri bagi para pasien yang pernah menjalani pengobatan kusta di rumah sakit umum khususnya di kabupaten TTU dengan besar harapan pasien yang mengidap penyakit Kusta dapat terbebas”,kata Suster Maria.
Suster Maria juga berharap kepada para seluruh penderita penyakit kusta di TTU untuk tidak malu bersosialisasi dengan banyak orang terkait penyakit kusta ini.