Berdamai Dengan Stigma Ketua KDS Lembata, Yustina Hekur; Berhasil Mendapat Viral Load Rendah Melawan HIV dan Diskriminasi

Stigma menciptakan ketakutan dan rasa malu, berakibat pada gangguan mental dan penurunan kualitas hidup penyintas, Anggapan sangat keliru bahwa HIV menular lewat kontak sosial bisa memicu pengucilan terhadap ODHA, termasuk di lingkungan sekolah dan tempat kerja. 

Stigma ini tentu  membuat penyintas  HIV/AIDS (ODHA) menjadi takut memeriksakan diri dan enggan berobat, yang justru meningkatkan risiko kematian dan penularan.

Mama Yustina Hekur salah satu penyintas ODIV, selama ini berjuang melewati Ziarah hidupnya yang  panjang, Ketua Kelompok Dukungan Setara (KDS), ini membuktikan dirinya bahwa HIV bukan akhir dari segalanya. Ia Terdiagnosis HIV sejak 2005, dan  kini sudah mencapai kondisi undetectable atau tidak terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium setelah menjalani pengobatan Antiretroviral (ARV) secara rutin, dan kini Ia telah dinyatakan tidak berpotensi menularkan HIV.

Kepada media saat dikunjungi di kediamanya, mama Yustina berkisah tentang Riwayatnya ketika dirinya mengetahui ia positif HIV sejak tanggal 19 Desember 2007, dan mulai menjalani pemeriksaan untuk rutin mengkonsumsi Antiretroviral (ARV).

“Saya sudah tes lima kali, dan hasilnya undetectable. Artinya, tidak ada lagi penularan,” jelasnya.

Menurut Yustina, ia terinfeksi dari almarhum suaminya ketika mereka tinggal di Makassar. Suaminya meninggal pada tahun 2005, dan baru menyadari kondisi kesehatan almarhum saat tutup usia,”ungkap Mama Yustina.

Mengetahui hal itu, Yustina pun mulai melakukan pemeriksaan awal di Maumere sebelum melanjutkan perawatan di Kupang.

Pada tahun 2015, ia kembali menjalani tes viral load di Kupang dan hasil menunjukkan peningkatan kesehatan signifikan.

“Dulu dengan 200 naik hingga 500 

dan sekarang nol ketika di periksa viral load atau tidak “terdeteksi, ” ujarnya.

Suka Duka Berjuang Melawan Stigma

Meski Ia telah membuka dirinya  sebagai ODIV (Orang Dengan HIV), Yustina mengaku masih sering menghadapi stigma, bahkan dari tenaga kesehatan.

Dalam kondisi ini Yustina tidak mengenal putus asah, ia terus berjuang dalam Upayanya mencari nafkah dengan berjualan kue. Mirisnya jualan kue  pun tidak selalu diterima baik oleh masyarakat sekitar. 

“Masih ada yang takut-takut. Padahal HIV tidak menular lewat makanan,” tambah Ma Nefri.

Menurutnya kondisi ini tidak hanya masyarakat sekitar tapi Yustina  juga mengalami Diskriminasi dalam ingkungan keluarga. Anak menantunya pernah memilih pulang ke rumah orang tuanya karena ketakutan setelah mengetahui status mama Yustina.

kondisi ini tidak membuat Yustina putus asa, ia selalu bawaanya dalam doa, dan mendapat bimbingan penguatan penjelasan dari Yayasan Flobamora, hingga suatu saat anak menantunya akhirnya dia kembali.

“Keluarga yang dulu takut dan jijik, sekarang sudah tidak lagi. kini tinggal bersama dua anaknya, dan cucunya yang sudah dinyatakan 

undetectable tidak ada penularan setelah menjalani tiga kali pemeriksaan.

Advokasi dan Pelayanan Kesehatan

Sebagai Ketua KDS, Yustina terus menyerukan edukasi terhadap masyarakat dan pendampingan bagi ODIV lain. Ia mengaku bekerjasama dengan aktivis Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Lembata, Nefri Eken.

Yustina mengaku pernah bolak-balik ke Maumere demi mendapatkan ARV sebelum akses obat itu tersedia di Lembata.

Menurutnya perjuangan untuk menghadirkan klinik VCT dan ARV. Tahun 2011 waktu itu belum ada obat dan klinik. Pada 2013 VCT mulai tersedia, dan 2017 akses ARV sudah mulai rutin,” jelasnya.

Saat ini sudah ada 15 klinik VCT di Lembata, meski edukasi publik masih sangat dibutuhkan.

Terhadap generasi muda Yustina juga berharap untuk lebih menjaga pola pergaulan dan menghindari perilaku berisiko,“Prinsip saya, biarlah cukup saya saja. Jangan ada lagi orang baru yang mengalaminya,” tuturnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia tetap optimistis. Dengan dukungan masyarakat, ia berharap usaha kecilnya dapat berkembang dan bisa mendapat perhatian dari pemerintah.

“Kami butuh dukungan modal usaha. Stigma masih ada, tapi kami terus bergerak.”

Sebagai penyintas yang kini hidup sehat. Yustina juga mengajak masyarakat untuk tidak lagi takut berinteraksi dengan orang dengan HIV (ODHIV).

“peristiwa seperti ini pribadi dan keluarga harus kuat. Konseling itu penting. Dari pengalaman saya, banyak yang akhirnya mau tes setelah dengar testimoni saya,” tutur Yustina.

Perjuangan Yustina ini mengingatkan kita semua bahwa perawatan yang tepat waktu, dukungan sosial, dan hilangnya stigma, ODIV dapat menguatkan  kita untuk bisa hidup normal, sehat kembali.

Nefri Eken mantan ketua KPAD Lembata menambahkan bahwa, Stigma terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV) seringkali jauh lebih menyakitkan dan merusak daripada virus itu sendiri. Menghentikan stigma bukan hanya soal etika, tapi juga langkah krusial dalam kesehatan masyarakat.

​Ketika stigma masih kuat, orang menjadi takut untuk melakukan tes, takut membuka statusnya, dan ragu untuk mencari pengobatan. Padahal, dengan penanganan yang tepat, ODHIV bisa hidup sehat dan produktif.

menurut Nefri ada beberapa poin penting untuk bisa membantu mengikis stigma tersebut:

Memahami Fakta vs. 

Mitos ​Banyak stigma lahir dari ketakutan yang tidak berdasar

Yang paling Penting untuk diingat bahwa HIV tidak menular melalui:

​Bersalaman, berpelukan, atau bersentuhan kulit, ​berbagi alat makan atau kamar mandi. ​Gigitan nyamuk atau keringat.

Konsep U = U (Undetectable = Untransmittable)

Ini adalah terobosan besar dalam dunia medis. Jika seorang ODHIV menjalani terapi Antiretroviral (ARV) secara rutin hingga jumlah virus dalam darahnya tidak terdeteksi (undetectable), maka virus tersebut tidak dapat ditularkan (untransmittable) kepada orang lain, bahkan melalui hubungan seksual.

Faktanya: 

ODHIV yang patuh berobat memiliki kualitas hidup yang sama dengan orang tanpa HIV dan tidak membahayakan orang di sekitarnya.

​3. Bahasa yang Memanusiakan

​Cara kita berbicara sangat berpengaruh.

Penggunaan istilah “ODHIV” jauh lebih baik daripada sebutan yang menghakimi. Menghindari kata-kata seperti “penderita” atau “korban” membantu menggeser fokus dari penyakit ke aspek kemanusiaan mereka.

4. Dukungan, Bukan Penghakiman

Setiap orang berhak mendapatkan empati. Memberikan ruang yang aman bagi teman atau kerabat yang hidup dengan HIV untuk bercerita tanpa takut dihakimi adalah bentuk dukungan moral yang sangat besar.

Menghentikan stigma dimulai dari edukasi diri sendiri dan keberanian untuk menegur informasi salah yang beredar di tengah masyarakat kita,”pungkas Nefri Eken.**

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *