Sekitar Puluhan guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Lembata mendatangi kantor Mapolres Lembata. Mereka menggelar aksi solidaritas terhadap rekan seprofesinya yang mengalami kasus penganiayaan yang dilakukan oleh orang tua siswa didiknya.
Aksi para Guru ini guna memastikan sejauh mana proses laporan kasus penganiayaan terhadap guru Damianus Dolu. Para Guru ini juga menuntut agar polres Lembata segera menahan pelaku penganiayaan guru Dami.
Pantauan Media Kehadiran para guru yang tergabung dalam PGRI Kabupaten Lembata itu disambut baik oleh Kapolres Lembata, AKBP Josephien Vivick Tjangkung.
Dalam Audiens yang dilakukan oleh persatuan PGRI Kabupaten Lembata bersama Kapolres Lembata ini diwakili oleh lima orang guru.
Sementara itu wakil Ketua PGRI Lembata, Fransiskus Kerong kepada media usai melakukan audiens bersama Kapolres Lembata, Rabu, 13 Maret 2024, mengatakan, audiens yang dilakukan ini merupakan aksi kepedulian terhadap sesama profesi.
“Surat yang dikeluarkan oleh organisasi PGRI ini meminta kesedian Ibu Kapolres untuk beraudiensi bersama kami terkait peristiwa yang menimpa salah satu guru di SMAN I Nubatukan”, jelas Fransiskus Kerong.
Terkait peristiwa yang terjadi, Kapolres Lembata Vivick Tjangkung di hadapan para Guru PGRI berjanji akan secepatnya menyelesaikan kasus tersebut. terkait kasus penganiayaan Guru Dami, saat ini sedang didalami oleh pihak Polres.”Jelas Vivick Tjangkung
Kapolres Vivick berharap agar segala proses yang terjadi dapat segera diselesaikan, sehingga rekan guru yang mengalami penganiayaan tersebut dapat menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik sebagaimana mestinya.
Fransiskus Kerong mengatakan bahwa pihaknya yakin dan percaya terhadap pihak polres Lembata dalam penanganan kasus yang menimpa Guru Damianus,”ungkap Kerong.
Frans Kerong mengatakan, pihak PGRI Lembata akan selalu mendukung segala proses yang terjadi, dan akan terus mendukung kinerja polres Lembata dalam penanganan kasus yang menimpa rekan kami guru Dami.
Berikut Kronologi Pemukulan Guru Dami
Damianus Dolu, Guru SMAN I Nubatukan Lembata mengaku bahwa dirinya dianiaya dan dikeroyok oleh dua orang, bapak dan anak berinisial MRS (21) di ruangan Kelas SMAN I Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Kejadian ini terjadi di ruangan kelas XIC-4, 19, SMAN I Nubatukan 19 Februari 2024. Akibat peristiwa ini pengeroyokan terhadap guru Dami ini, para guru melakukan rapat dan memutuskan Siswi SMAN 1 Nubatukan berinisial PAN ini dikeluarkan dari sekolah tersebut.
Damianus Dolu,kepada wartawan menjelaskan awal mula sebelum kejadian, seperti biasa dalam Kegiatan Belajar Mengajar biasanya diawali dengan mengecek kehadiran siswa sekaligus mengecek kelengkapan catatan.
Saat mengecek kelengkapan siswi berinisial PAN sibuk mencatat sehingga Korban Damianus Dolu menegur. Sayangnya teguran Korban Damianus dibantah oleh siswi PAN dengan alasan lupa sambil menggerutu.
“Saat saya mau melangkah ke samping kiri, siswi tersebut dengan nada sinis mengucapkan kalimat sante sa ka, Pa? (Santai saja pak, Red). Saya langsung refleks menepuk bahu kiri siswi tersebut, sambil menegur, Ade jaga sikap, kita dua umur tidak sama.
“ guru tegur saja kamu jawab seperti ini, apalagi orang tua. Pada saat yang sama, saya melihat tulisan nama Puteri Anisa Nasiro di bagian pundak kiri baju menggunakan bolpoint tinta biru. Saya pun langsung menegur lagi, itu buktinya, perempuan tulis nama di pundak baju menunjukkan sikap kurang bagus,”beber Guru Dami
Usai menegur PAN, saya pun langsung balik ke meja guru untuk mencatat perilaku sikap yang dilakukan oleh siswi tersebut, yang terjadi hari itu, tepatnya 19 Februari 2024,” Usai mencatat kejadian tersebut, Damianus langsung melanjutkan kegiatan belajar mengajar seperti biasa dan Selang 20 menit Siswi berinisial PAN ini langsung keluar ruangan kelas tanpa meminta izin. Saya mengabaikannya dan terus melanjutkan pembelajaran.”terang Guru Dami
“Sekitar jam 10, pada saat itu saya sedang mendampingi siswa-siswi dalam kelompok bagian belakang, siswi yang bersangkutan masuk kembali ke dalam ruang kelas dan mengambil tas dan keluar ruang kelas lagi tanpa ijin disaat bersamaan Bapak dan kakak dari siswi ini, langsung serobot masuk ke ruang kelas dan berteriak dengan nada makian. Orang tua PAN pun langsung menuju ke arah saya sambil berteriak “ ini, Pa Guru ka? Sambil menyorongkan tangan kepada saya”,jelas Dami
Lanjut Damianus, melihat Bapak dari Siswi PAN tersebut hendak berjabat tangan Damianus pun melakukan hal yang sama, sayangnya, Bapak ini langsung menarik tangan Damianus sambil memutar tangan hingga salah satu jari Damianus terkilir.
“berselang dengan kejadian putar tangan, kakak laki-laki Siswi PAN berinisial MRS langsung naik diatas meja dan langsung lompat menendang di dada saya sehingga saya terbuang ke belakang. saya berusaha untuk menghindar berlari ke arah kanan bagian deretan meja bagian belakang, namun kakaknya terus mengejar dan menarik baju dan menghantam di bagian belakang meninju saya dengan tangan kanannya
Damianus mengatakan dirinya sudah berusaha menghindar untuk keluar dari ruang kelas XI C-4, namun bapak dan kakak PAN masih terus mengejar saya sampai di depan halaman sekolah.
Di Depan halaman sekolah kakak PAN menghantam saya di bagian dada menggunakan tangan kanannya. Saya dikeroyok dan dianiaya mulai dari dalam kelas sampai ke luar halaman sekolah”,ungkap Guru Damianus.