Paus Fransiskus tutup usia 88 tahun membawa duka mendalam bagi umat Katolik dan komunitas internasional, sebelum meninggal Paus Fransiskus dalam pesan terakhirnya yang begitu menggugah disampaikan hanya sehari sebelum kepergiannya.
Pesan ini disampaikan saat Paskah bertajuk Urbi et Orbi yang dibacakan Uskup Agung Diego Ravelli pada Minggu (20/4), Paus Fransiskus menyoroti konflik global dengan fokus utama pada situasi tragis di Gaza dan Ukraina
Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik Roma ini dikenal dengan sikap humanis dan selalu memberikan pesan perdamaian globalnya, meninggal dunia pada Senin (21/4) dalam usia 88 tahun.
karena kondisi kesehatannya yang belum pulih sepenuhnya dari pneumonia. Pesan terhakir Paus Fransikus dibacakan Uskup Agung Diego Ravelli.
“Situasi di Gaza adalah dramatis dan menyedihkan. Saya menyerukan gencatan senjata segera, pembebasan para sandera, dan pengiriman bantuan kemanusiaan bagi mereka yang menderita kelaparan,” ungkap Paus
Tak hanya Gaza, Paus juga mengecam tren meningkatnya antisemitisme di dunia. Ia menyatakan solidaritasnya terhadap rakyat Israel dan Palestina yang terus terjebak dalam lingkaran kekerasan dan ketakutan.
“Dunia tidak membutuhkan lebih banyak senjata, tetapi lebih banyak harapan,” tulis Paus dalam pesan sosial medianya beberapa jam sebelum wafat.
“Kristus telah bangkit! Kata-kata ini menggambarkan seluruh makna keberadaan kita, karena kita tidak diciptakan untuk kematian, melainkan untuk kehidupan.”
Permintaan Terakhir: Upacara Sederhana
Sebagai simbol konsistensinya terhadap gaya hidup sederhana, Paus Fransiskus sempat menyampaikan permintaan agar upacara pemakamannya digelar secara sederhana. Dan pihak Vatikan telah mengonfirmasi bahwa prosesi akan difokuskan pada liturgi kebangkitan Kristus, tanpa kemewahan berlebihan.
Paus Pertama dari Amerika Latin, Peduli Isu Lingkungan dan Sosial
Paus Fransiskus lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio di Buenos Aires, Argentina, pada 17 Desember 1936. Ia menjadi Paus ke-266 dalam sejarah Gereja Katolik, dan Paus pertama yang berasal dari Amerika Latin serta Paus Jesuit pertama dalam sejarah. Terpilih pada 13 Maret 2013 menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri, Fransiskus segera mencuri perhatian dunia karena pendekatan pastoralnya yang membumi.
Paus Fransikus dikenal sebagai sosok yang menolak kemewahan Vatikan, dan lebih memilih tinggal di Wisma Santa Marta daripada di Istana Kepausan, dan kerap turun langsung ke tengah masyarakat miskin serta pengungsi.
Selama lebih dari satu dekade masa kepemimpinannya, Paus Fransiskus aktif mendorong reformasi dalam Gereja Katolik, memperjuangkan lingkungan hidup melalui ensiklik Laudato Si’, dan membuka dialog yang lebih luas dengan agama-agama lain.
Ia juga tak segan menyentuh isu-isu sosial seperti perubahan iklim, kesenjangan ekonomi, imigrasi, dan hak asasi manusia menjadikannya suara moral yang didengar lintas agama dan batas negara.
Jejak Warisan Paus Fransikus yang Tak Akan Hilang
Wafatnya Paus Fransiskus menandai akhir dari satu era, namun pesan-pesannya dipastikan akan terus bergema di tengah dunia yang masih haus akan keadilan dan kasih. Ia adalah pemimpin yang tak hanya memimpin Gereja, tapi juga menyentuh hati dunia.