Menyoroti lokasi eks Harnus yang ahkir-ahkir ini sepi tak ada pengunjung yang mendatangi tempat tersebut. Anggota DPRD kabupaten Lembata kepada media mengatakan bahwa lokasi ini kalau mau dijadikan sebagai tempat pariwisita maka pemerintah harus punya konsep untuk menatanya dulu,”Kita jangan melihat ramai sedikit kita mau kelolah. Apalagi dengan karcis masuk 10.000, Saya sarankan kalau bisa pemerintah hanya menyiapkan lahanya saja kepada para para pelaku pengusaha kecil untuk mereka yang urus demikian,”kata Samsudin Aggota DPRD kabupaten Lembata beberapa hari yang lalu
Kader partai Perindo ini kepada media mengatakan kalau semakin banyak orang yang masuk tentu dampaknya juga bagus terhadap para pengusaha yang ada di lokasi Wulon Luo atau biasa disebut eks Harnus ini, dan pasti mendapat keuntungan banyak. Nah ketika para pengusaha UMKM punya keuntungan banyak maka sudah tentu mereka tidak segan-segan memberikan kontribusinya kepada pemerintah.
Tugas kita adalah bagamaina mencari peforma yang tepat. Terkadang kita cerdas mencari peforma namun kita sendiri tidak memiliki inovasi untuk bagaimana meningkatkan Penerimaan daerah. Kita pasti tetap mengalami kesulitan karena Pada umunya kita cendrung lebih banyak menciptakan kegiatan yang tidak menghasilakan. Ketimbang menciptakan langkah-langkah strategis untuk menghasilkan. Sama dengan penggunaan dana PEN yang menelan ratusan miliar tapi tidak menghasilkan padahal tujuan daripada PEN itu untuk pemulihan Ekonomi masyarakat secara nasional. Dengan demikian maka harusnya dana PEN ini setidaknya kita juga harus menyiapkan anggaran sedikit untuk pemberdayaan masyarakat. Kalau masyarakat kita berdayakan maka tentu kita akan bisa memperoleh keuntungan dan masyarakat juga pasti dengan sendirinya akan hidup sejahtera. Kita lihat sekarang dana Pemeberdayaan Eekonomi Nasional yang digelontorkan menjadi terbengkelai,”sebut Samsudin
Terkait karcis masuk lokasi Eks Harnus yang menuai protes di publik itu nanti saya coba cek perda dulu. Tapi Saran saya Kalau bisa pemerintah harus tetapkan dulu lokasi itu menjadi tempat pariwisata baru kita bisa berlakukan karcis dipintu masuk. Yang menjadi pertanyaan itu, apakah lokasi Wulon Luo sudah masuk pada lokasi pariwisata melaui keputusan kepala daerah dalam hal ini Penjabat Bupati atau belum,? Kalau Wulon Luo ini sudah ditetapkan menjadi lokasi pariwisata baru karcis ini dapat diberlakukan,”ujar Samsudin
Menurut Samsudin, yang perluh diperhatikan di lokasi seperti ini adalah sarana prasarananya harus dipersiapkan untuk bisa menarik wisatawan. Jadi kalau kita tidak siapkan maka percuma saja. Contoh sederhanaya seperti kondisi yang ada ini menurut saya sangat mengganggu karena fasilitasnya tidak dinikmati secara keseluruhan. Seperti Jety Apung sekarang tidak dimanfaatkan dengan baik bahkan sangat mengganggu lalulintas olahgerak kapal, ada juga rumah bambu yang sudah dibangun tapi tidak dirawat dengan baik dan ini menjadi masalah.
Sebenaranya lokasi eks harnus ini harus memiliki konsep. Kalau kita mau jadikan ini sebagai tempat pariwisata maka harus siapkan fasilitasnya dengan baik dan bagamana strategi inovasi sektor pariwisatanya.
Samsudin berharap pemerintah juga perluh untuk hadirkan semua pihak pengusaha yang selama ini sudah berjualan dan membuat tempat ini ramai , semua pihak harus duduk bersama-sama membicarakan berapa reterbusi yang harus dibayar ke pemerintah. Mengapa harus dilakukan demikian karena selama ini saya liat hapir diseluruh daerah itu tidak ada yang namanya pemeritah mengelolah secara utuh. Contoh di Ancol itu pihak pemerintah hanya menyiapkan fasilitasnya. Sehingga semua anak perusahaan yang ada didalam lokasi Ancol itu masing-masing mengelolah tempat tersebut. Masing-masing punya tangung jawab Misalnya, yang lain menyiapkan tendanya yang lain menyiapkan tikar, lopo dan lain sebagainya. Dan yang mengelolah semuanya itu adalah para pengusaha kecil yang ada didalam lokasi tersebut. Pemerintah tinggal kumpulkan semua pelaku usaha untuk membuat kesepakatan bersama berapa prosen yang harus dikasih ke pemerintah,”kata Samsudin.
Dan yang paling penting itu pemerintah memberi ruang supaya apa yang mau dibuat itu pemrintah hanya menyiapkan fasilitas lahan sehingga hal menarik apa yang perluh dibangun itu tinggal saling komunikasi saja dengan para pelaku usaha.
Lamjut Samsudin, Soal Karcis masuk 10.000 itu bisa saja tapi sangat disayangkan karena kita jelas sedang tidak menumbuhkan usaha masyarakat. Seharusnya pemerintah mendatangkan para pengusaha untuk menyiapkan fasilitas didalam seperti ban dalam (Binen) untuk disewakan, tikar, lopo dan fasilitas lainya. Sehingga semakin banyak pengusaha yang masuk maka dengan sendirinya usaha peningkatan penerimaan daerah juga jelas semakin bertambah. Dan dengan sendirnya lokasi eks Harnus juga semakin ramai dikunjungi karena di lokasi tersebut ada banyak fasilitas yang perluh harus disiapkan. Dengan demikian maka kita juga bisa tahu ada tumbuh kemabang ekonomi di tempat ini. Saya yakin Kalau ruang itu diberikan kepada semua pengusaha tentu para pengusaha pasti punya inovasi untuk menambah usaha-usaha lainya. Ketika pengusaha semakin banyak maka terbentuklah komunitas untuk bisa menciptakan even-even besar. Seperti wahana hiburan disiang hari dan malam hari supaya bisa menjebak orang untuk masuk setiap saat karna dilokasi ini semua orang jadi tahu setiap saat selalu buka, selain itu kita juga bisa bangun pusat oleh-oleh khas Lembata.
Ada banyak hal yang kita tidak bisa manfaatkan dengan baik untuk menghasilkan uang. Kita lebih banyak menghabiskan anggaran tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Kita coba bayangkan berapa banyak masyarakat dari luar yag selama ini mencari lokasi usaha dan membayar lokasi tersebut. Biaya yang mereka keluarkan seperti kontrak kos, kontrak tempat usaha artinya mereka tahu keuntungannya. Nah hal ini kenapa pemerintah tidak memanfaatkanya,? Ada banyak aset yang tidak dimanfaatkan. Mestinya pemerintah bangun fasilitas secara permanen seperti ruko dengan lokasi parkirnya, lampu-lampu juga disiapkan. Mestinya kita harus ciptakan banyak kegiatan supaya pertumbuhan ekonomi masyarakat bisa lebih baik,”Pemerintah cukup bangun fasilitas sehingga para pengusaha menyewakan tempat yang sudah disiapkan. Setiap hari tidak usah banyak cukup ambil 20.000 per stan saja itu sudah lumayan sehingga tidak ada pihak ketiga lagi yang urus. Seperti usaha warung makan mereka bisa sisihkan pada saat satu orang makan itu mereka sudah bisa setor ke pemerintah. Artinya kalau ada 10 orang makan dalam satu hari berarti itulah keuntungannya. Pemerintah hanya ambil satu porsi saja ini contoh yang paling sederhana,”urai Samsudin
Kita harus memulainya dan harus berani untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar,” dan untuk bisa menjadikan lokasi eks Harnus ini sebagai sektor pariwisata maka harus ada konsep untuk penataan lokasi dan sarana. Kita datangkan ahli pariwisata untuk konsepkan, masa orang lain bisa kita tidak bisa. Yang membuat kita tidak bisa itu karena kita terlalu ego kita tidak punya inovasi tapi kita ego. Mau kelolah sendiri dan tidak memberi kesempatan pada pihak ketiga. Pariwisata itu tidak bisa konsepkan satu hari untuk satu tahun karena setiap tahun berubah. Setiap tahun kalau tidak berubah maka orang pasti bosan.
Sama dengan di lokasi eks Harnus ini,”Saya juga sangat sayangkan sekali dengan barang-barang seperti wahana permainan anak-anak ini, kalau setiap hari sepih seperti ini mau dapat apa. Padahal barang-barang ini dibeli dengan uang yang jumlahnya bukan sedikit. Seharusnya pemerintah yang menyiapkan konsepnya untuk membuka ruang kepada para pengusaha kecil. Caranya harus punya inovasi. Saya jadi sedih melihat lokasi ini sepih karena karcis masuk yang mempersulit orang jadi tidak masuk,”tandas Samsudin
Khatarina Ndapamerang, pemilik Wahana Inces mengatakan bahwa lokasi eks Harnus ini mulai sepih sejak karcis masuk 10.000. usaha saya jadi sepi. Pendapatan hampir tidak ada pemasukan karena anak-anak tidak datang bermain. Padahalnya sebelumnya Wahana permainan anak-anak ini sangat ramai dikunjungi anak-anak.
Khatarina mengatakan bahw. Wahana hiburan postitif yang kita hadirkan ini untuk anak-anak supaya mereka bisa bermain semua jenis permainan. Memang beberapa minggu sekitar awal Januari 2023 ada beberapa mobil bus dari Kedang dan Ile Ape membawa anak-anak untuk datang ke Harnus. Rombongan bus ini ahkirnya memilih pulang karena karcis masuk dihitung per-orang 10.000. Ya dampakanya usaha kami jadi sepih. Kami minta agar pihak pemerintah kecamatan harus bisa evaluasi hal ini agar kedepan lokasi eks Harnus ini bisa kembali ramai.
Ibu Mery Wujon
Lapak saya sudah buat tapi karena sepih jadi kami tunggu Harnus ramai lagi dulu baru kami masuk jualan. Persoalan eks Harnus sepih karena karcis masuknya terlalu mahal,” orang- orang mengeluh karena karcis masuk terlalu mahal. Contoh kalau anak-anak mau datang bermain wahana terus hanya bawa uang tidak banyak terus di pintu masuk sudah di tagih. Uang yang harusnya untuk dia bermain dan beli minuman ternyata habis dipintu masuk. Jadi kebanyakan orang tidak mau masuk karena mereka tidak mampuh bayar karcis masuk. Jadi kalau lokasi Harnus ini sudah ramai baru kami mau masuk jualan.
Marwah, pemilik lapak kopi PJ. Pendapatan kita sepih sekali, biasanya hampir setiap hari orang datang refresing menikmati pemandangan di Pantai Wulon Luo ini. Kami berharap pihak pemerintah untuk bisa melihat usaha kecil kami. Terus terang saja Harnus sepih dan orang tidak mau datang karena karcis masuk terlalu mahal. Bapak camat juga pernah samapikan bahwa pihaknya akan mengevaluasi batas ahkir bulan Januari jadi kami tunggu saja seperti apa hasilnya.
Mas Asep, saya sudah 3 tahun lebih di lokasi Wulon Luo, disni tempat yang sangat strategis untuk kami membuka usaha kecil-kecilan. Dari awal kami buka setiap hari dan orang selalu datang untuk menikmati susana pantai di Wulon Luo terlebih soreh hari hingga malam hari. Namun ahkir-ahkir ini pengunjung sepih beberapa kali orang datang tapi karena karcis masuknya 10.000 mereka langsung putar pulang. Sepihnya Wulon Luo ini membuat pendapatan kami juga jadi menurun. Bahkan kami hampir tidak bisa belanja untuk putar modal. Sudah beberapa kali bapak penjabat Bupati datang ke tempat ini tapi sayangnya bapak penjabat tidak ketemu langsung dengan kami. Kami beraharap bapak Penjabat Bupati mendengar keluhan kami dan bisa ada jalan keluar untuk kami pengusaha kecil. sayang sekali kalau tempat ini sepih padahal dulu sangat ramai dikunjung masyarakat Lewoleba. Bagamana kami mau sewa lokasi kalau pendapatan atau pemasukan tidak ada,”kata Mas Asep.
Elisabet Ndapamerang, awalnya saya sangat tertarik ketika melihat banyak pengunjung yang datang ke lokasi ini. Sehingga saya dan teman-teman lain mau bangun lapak untuk buka usaha. Dalam perjalanan kami belum bisa buka usaha karena melihat kondisi lokasi eks Harnus ahkir-ahkir ini sangat sepih. Ini yang membuat niat dan semangat kami untuk buka usaha jadinya malas karena lokasi ini semkain sepih. Iya sepih karena karcis masuk sangat mahal. Saran saya kalau bisa karcis masuknya jangan hitung per-orang tapi cukup hitung kendaraan misalnya untuk sepeda motor 2.000 terus mobil 5.000 sehingga tagihan ini dibebankan untuk parkiran saja. Kalau 10.000 per orang itu sepertinya memberatkan masyarakat yang mau masuk. Beberapa minggu belakangan ini orang lebih memilih ke pantai disekitar seperti di panatai SGB Bungsu Lewoleba.(Gusty/Chelle)