Pemerintah Kabupaten Lembata kembali melaksanakan rapat lanjutan percepatan realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tahun Anggaran 2025, yang digelar di Pantai Wisata Epo, Desa Kolontobo. Rapat ini dipimpin langsung oleh Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, S.P, didampingi Asisten III, dan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), hadir juga dalam kegiatan tersebut 39 pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Lembata.
Tujuan daripada rapat ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya pada 24 September 2025, yang membahas strategi pencapaian target PAD di triwulan IV tahun anggaran berjalan.
Dalam pembukaan rapat, Asisten III menyampaikan perkembangan positif, di mana terjadi kenaikan signifikan sebesar Rp 2 miliar lebih pada realisasi pendapatan daerah dibandingkan bulan sebelumnya.
Ia juga menegaskan bahwa hingga 27 Oktober 2025, realisasi pendapatan daerah baru mencapai 65,92%. Angka ini, menurutnya, masih perlu digenjot agar bisa mencapai target minimal 85% hingga akhir tahun.
“Jika target 85% tidak tercapai, maka potensi belanja yang tidak bisa direalisasikan oleh BPKAD bisa mencapai Rp 13,6 miliar. Karena itu, rapat hari ini menjadi sangat penting untuk memastikan setiap OPD harus bisa mengambil langkah konkret dalam mendorong capaian PAD,” tegasnya.
Laporan Kepala Bapenda
Kepala Bapenda Lembata memaparkan bahwa total realisasi pendapatan daerah hingga 27 Oktober 2025 telah mencapai Rp. 609.913.407.150 atau 72,98% dari target perubahan sebesar Rp 835 miliar lebih.
Pendapatan daerah tersebut bersumber dari tiga komponen utama yakni:
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 26,369 miliar atau 67,35% dari target perubahan Rp. 39 miliar lebih.
2. Dana Transfer sebesar Rp 579,8 miliar atau 73,65% dari target perubahan Rp. 787,7 miliar.
3. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah sebesar Rp3,716 miliar atau 39,84% dari target Rp9,3 miliar.
Khusus PAD, Kepala Bapenda menjelaskan bahwa pendapatan tersebut bersumber dari empat sektor utama, yaitu Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, serta Lain-lain PAD yang Sah. Selain itu Kepala Bapenda juga menyinggung adanya perbedaan antara target pakta integritas (Rp 40 miliar) dan target perubahan DPA (Rp 39 miliar). Keduanya ini perlu disepakati sebagai dasar evaluasi capaian.
Diskusi dan Arahan Strategi Bupati Lembata
Bupati Lembata menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi dalam menggali potensi PAD baru, terutama dari sektor-sektor yang selama ini belum tergarap maksimal.
Ia meminta setiap OPD memberikan masukan dan ide konkret terkait metode atau pola peningkatan PAD yang bisa diterapkan ke depan, termasuk optimalisasi retribusi, pemanfaatan aset daerah, serta kerja sama dengan pihak ketiga.
“Kita tidak hanya bicara angka, tapi juga strategi. Setiap OPD harus berani berinovasi, melihat peluang baru yang bisa menambah pendapatan daerah tanpa membebani masyarakat,”ujar Bupati Kanisius.
Sama dengan Pemilihan lokasi rapat di Pantai Wisata Epo hari ini bukan tanpa alasan. Selain untuk mendekatkan kegiatan pemerintahan dengan masyarakat, pelaksanaan rapat di kawasan wisata ini juga menjadi strategi promosi sektor pariwisata lokal, yang merupakan salah satu sumber unggulan PAD Kabupaten Lembata.
“Saya ingin menegaskan bahwa pariwisata adalah sektor potensial yang bisa menopang peningkatan PAD. Karena itu, kegiatan pemerintah juga perlu kita arahkan untuk sekaligus memperkenalkan destinasi wisata daerah,”ungkap Bupati Lembata.
Rapat berlangsung hingga siang hari dan menghasilkan beberapa rekomendasi penting, antara lain perlunya percepatan pelaporan data PAD, sinkronisasi target antar-OPD, serta peningkatan koordinasi antara Bapenda dan perangkat daerah penghasil.
Melalui rapat lanjutan ini, Pemerintah Kabupaten Lembata berharap target realisasi PAD di atas 85% dapat tercapai sebelum akhir tahun, sebagai wujud komitmen bersama dalam memperkuat kemandirian fiskal daerah.