Proyek pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana ruas jalan Simpang Waikomo – Belobatang – Wulandoni yang sedang dikerjakan CV. Floresta saat ini mencapai 10,75 persen. Sementara pengerjaan proyek yang sama pada ruas jalan Watugolok Bakan – Paololo – Labala, yang dikerjakan CV. Lima Satu, baru mencapai 3,5 persen.
Rahman, Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) pada Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata saat ditemui di ruang kerjanya, mengatakan keterlambatan item pekerjaan pada kuartal pertama ini bukan faktor disengaja tapi karena kendala teknis.
Lanjut Rahman kendala yang dihadapi oleh para kontraktor saat ini disebabkan beberapa faktor, salah satunya adalah keadaan alam yang kurang bersahabat dan juga medan yang berat. Kondisi inilah yang menyebabkan progres pekerjaan menjadi terhambat. Akibatnya, sampai menjelang akhir triwulan satu, progresnya belum mencapai 15 persen. Namun saya yakin pengerjaan ini pasti selesai tepat waktu,”kata Rahman
Dikatakanya bahwa dari hasil pantauan, ada beberapa segmen-segmen kritis yang masih dikerjakan. Kondisi jalan sudah diperlebar sehingga nampak luas. Sementara talut penahan banjir serta drainase dalam proses pemasangan. Apabila kondisi cuaca dan medan memungkinkan untuk dilintasi armada, maka diyakini persentase fisik proyek ini akan semakin meningkat. Apalagi didukung dengan perlengkapan armada,”jelas Rahman
Menurut Rahman, penyebab utama mengapa fisik proyek baru mencapai 3,5 persen dan 10,75 persen dikarenakan faktor alam yakni intensitas cura hujan yang cukup tinggi saat ini dan stok material pada area kuari diambil cukup jauh dari lokasi proyek. Selain itu, kondisi jalan atau medan yang berlicin yang berakibat lambatnya progres pekerjaan di lapangan. Kondisi ini juga dipersulit dengan keberadaan kedua rekanan yang terlibat dalam pengerjaan proyek PEN di Lembata, sehingga konsentrasi kerja menjadi terbagi
Dari faktor-faktor inilah penyebab mengapa proyek di triwulan pertama belum mencapai 15 persen karena. Saya tetap optimis pengerjaan ini bisa diselesaikan sesuai target. Karena waktu yang diberikan untuk pengerjaan proyek ini sampai dengan 5 September 2023, sehingga masih ada waktu untuk penyelesaian,”terang Rahman
Rahman juga menerengkan Proyek pengerejaan jalan yang sedang dikerjakan sekarang itu dari Simpang Waikomo – Belobatang – Wulandoni, dengan panjang 1.990 meter, dengan menelan biaya senilai Rp. 5.408.878.500. Sementara pada segmen Watugolok Bakan – Paololo – Labala, dengan jarak 2.980 meter, menghabiskan anggaran senilai Rp. 7.780.316.000. Kedua proyek tersebut bersumber dari dana hibah bencana alam, dari pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (ABNPB) tahun fiskal 2022.
Menurut Kabid RR, kedua proyek dengan dana tersebut hanya dikhususkan untuk perbaikan jalan dengan segmen-segmen kritis saja. Untuk paket simpang Waikomo menuju Wulandoni hanya dikhususkan pada 8 segmen kritis yaitu di Uruor, Desa Belobatang, Kecamatan Nubatukan.
Sementara pada paket Watugolok Bakan sampai Lebala hanya dikhususkan pada 9 segmen, yakni segmen satu di Desa Tubuk Rajan, segmen 2, 3, 4 di Desa Bakan. Sedangkan segmen 5, 6 berada di Desa Doripewut, segmen 7, 8 di Desa Lebaata dan segmen terakhir, 9 di Desa Leworaja, Kecamatan Atadei dan Wulandoni.
Untuk Saat ini, pengerjaan proyek jalan oleh dua kontraktor tesebut sedang dilaksanakan. Pekerjaan bangunan pelengkap berupa talut pengaman badan jalan dan saluran drainase sedang dikebut. Kita berharap semua proyek ini selesai tepat waktu, mengingat 9 bulan waktu pengerjaan yang diberikan atau 270 hari kalender kerja, terhitung tanggal 5 Januari sampai tanggal 5 September 2023. Waktu yang diberikan begitu panjang, sehingga Rahman meyakini pasti selesai tepat waktu.
“Mereka sekarang sedang kejar bangun pelengkapnya. Kalau bangun pelengkapnya selesai berarti ikutan berikutnya mereka mulai pemadatan jalan yang kemudian disusul pengerjaan jalan hotmix,” jelas Rahman.
Khusus ruas jalan Watugolok menuju Labala, ada dua produk yang dikerjakan yakni satu produk dengan jarak 1 kilometer menggunakan hotmix sedangkan sisanya 980 meter menggunakan rabat. Adapun lebar kedua ruas jalan tersebut rata-rata berjarak tiga setengah meter. “Jadi tiga setengah badan jalan, nanti kita rabat bahu jalan mungkin lima puluh senti. Karena pada prinsipnya, pembangunan harus lebih baik.
Pola pembangunan seperti ini adalah merupakan filosofi pembangunan menurut standar penanganan pasca bencana alam BNPB yang juga termuat dalam peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 04 Tahun 2015 tentang Hibah Dari Pemerintah Pusat Kepada Pemerintah Daerah Dalam Rangka Bantuan Pendanaan Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Pasca Bencana. Di dalam peraturan Kepala BNPB ini termuat salah satu prinsip dasar yakni “Membangun kembali lebih baik dan aman (Build Back Better and Safer) yang berbasis konsep pengurangan risiko bencana”.
Karena itu, kedua ruas jalan ini pengerjaannya harus betul-betul berkualitas untuk meyakinkan masyarakat pengguna bahwa jalan yang dilintasi ini dalam kondisi baik. Dengan demikian pengguna arus transportasi barang dan jasa yang melintasinya merasa aman dan nyaman sekaligus mengurangi resiko kecelakaan.
Rahman menjelaskan secara filosofi, kehadiran proyek ini adalah dalam rangka untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Masyarakat setempat dilibatkan dari aspek ketenagakerjaannya dan juga bahan material lokal. Kedua hal ini wajib dilakukan sehingga membantu Pemerintah Desa dan masyarakat setempat dalam mengendalikan perputaran uang untuk tetap beredar di masyarakat.
Terkait jalan yang sedang dikerjakan dengan menggunakan dana hibah ini, khususnya pada segmen-segmen kritis dari dan menuju Desa Paubokol, Bupati Marsianus Jawa perintahkan Asisten III untuk pastikan bahwa pengerjaannya harus dilakukan dan tepat waktu. “Harus rapihkan dari bawah. Pa As kawal,” kata Bupati kepada Asisten III, Brecmans Dai Wutun yang juga putra asli Uruor, Desa Belobatang.
Pada kegiatan panen jagung bersama Kepala Bank NTT Cabang Lewoleba
Penjabat Bupati Lembata dalam sambutanya memberikan penugasan khusus ini dengan alasan, karena melihat ruas jalan Uruor pada segmen-segmen kritis dalam proses pengerjaan oleh CV Floresta membutuhkan pengawasan ekstra sehingga kwalitas dari pekerjaan bisa terjamin mutunya. Selain itu, ruas jalan ini menjadi salah satu prioritas kerja sepanjang saya masih menjabat.
Dengan pernyataan ini, Dia bermaksud agar setiap ada kegiatan harus dikawal pengerjaannya sehingga jalan khusus segmen kritis yang selalu menjadi keresahan masyarakat kedepannya menjadi baik dan aman dilakui. Selain itu, ia juga menugaskan Asisten III, Kepala BPBD dan Kadis PU untuk memperhatikan tempat-tempat yang belum tersentuh untuk dirapikan.
Penjabat Bupati Lembata mengatakan bahwa daerah ini, selama ini dilupakan dan kondisi saat ini sungguh sangat miris sekali, berbanding terbalik dengan daerah lain di Lembata yang sudah banyak perubahan terutama infrastruktur jalan. Padahal dilihat dari kondisi alam saat ini, Uruor dan kawasan sekitarnya merupakan daerah yang subur. Daerah yang selama ini telah memberikan kontribusi besar dalam perputaran ekonomi masyarakat Lembata, terkhusus Kota Lewoleba. Begitu juga Desa Belobatang dan Desa-desa lainnya sepanjang poros tengah, yang selama ini telah menjadi penyangga ekonomi masyarakat. Namun potensi ini tidak diikuti dengan kebijakan infrastruktur jalan yang berpihak dari Pemerintah Kabupaten Lembata selama ini,” Saya berjanji di sisa masa kepemimpinan, ruas jalan ini akan menjadi fokus perhatian.
Saya teringat dengan pernyataan bapa Ande Eban, seorang tokoh masyarakat Uruor yang kalah itu menyampaikan bahwa “bagaimana itu kuenya Jokowi kami tidak peroleh sedikit pun, kalau tidak dapat kue maka kami tutup air untuk kota Lewoleba,” demikian Pernyataan yang tegas dari seorang tokoh masyarakat di desa Uruor yang menjadi permenungan saya sebagai penjabat Bupati dan dari pernyataan ini tentu sangat menggugah. Sehingga
Saya memastikan bahwa semua proses pembangunan jalan di Lembata harus sampai tuntas sesuai target,”sebut Penjabat Bupati Lembata Marsianus Jawa.(Gusty,Chelle,Prokompim Setda Lembata)