Pimpinan YAPENKAR Mengapresiasi Kritik dalam Pementasan Teater 40 tahun Unwira

Ketua Yayasan Persekolahan Katolik (YAPENKAR), Pater Yulius Yasinto, SVD, MA, M.Sc, mengapresiasi kritik yang ditampilkan dalam pementasan teater kisah perjalanan 40 tahun Unwira yang digelar di Aula St. Maria Immaculata, kompleks kampus baru Unwira Penfui, Sabtu, 17/08/2022.

Pater Yul yang ditemui media setelah menyaksikan acara pementasan teater mengatakan, dirinya sangat mengapresiasi keberanian para pemeran dan sutradara teater karena berani menyampaikan kritik secara terbuka. Kritik demi perbaikan Unwira ini sangat baik. Karena di tengah apresiasi tentang kemajuan, ada juga kritik terhadap kekurangan yang harus terus dibenahi di Unwira. Dan itu sesuatu yang konstruktif. “Saya merasa gembira karena mereka meramu sejarah 40 tahun Unwira dalam dua sisi yang seimbang. Satu, ada sisi kemajuan. Dan itu nyata. Tetapi mereka juga berani menyampaikan kritik terhadap apa yang masih kurang di Unwira. Ini bagi saya sangat konstruktif,” tegas Pater Yul. Menurut Pater Yul, teater tersebut sangat bagus karena berani menyampaikan kritik terhadap institusi. Tetapi juga kritik terhadap diri sendiri sebagai mahasiswa, juga terhadap dosen maupun pegawai di Unwira. “Artinya refleksi kritis seperti itu yang dibutuhkan setiap Lembaga Perguruan Tinggi pada suatu usia tertentu. Karena tidak ada yang sempurna dalam sebuah perjalanan,” beber Pater Yul.

Sebagai pimpinan YAPENKAR, Pater Yul berharap agar nilai-nilai yang dulu ditanamkan oleh para pendiri Unwira harus terus dikembangkan. Di mana, dengan spirit dari nilai-nilai para pendiri Unwira tersebut, dengan didukung oleh keterampilan dan pengetahuan baru serta teknologi yang semakin maju, akan mampu membuat Unwira tumbuh menjadi Universitas swasta yang lebih baik lagi. “Harapan saya nilai-nilai asli yang dulu ditanamkan oleh pendiri itu yang perlu kita kembangkan. Karena setelah 40 tahun berjalan, banyak nilai yang sudah mulai pudar. Sekarang saatnya refleksi kritis dilakukan agar nilai-nilai ini digali kembali untuk terus dikembangkan. Terutama untuk menghadapi persaingan yang saat ini kian berat,” beber Pater Yul. Menurut mantan Rektor Unwira dua periode ini, persaingan PT di era post truth dan disrupsi seperti saat ini tentu sangat menantang. Di mana, sebuah perguruan tinggi, apalagi PT Swasta dituntut untuk tidak bisa hanya memberi bekal intelektual, dan juga keterampilan semata kepada mahasiswanya. Tetapi juga dituntut untuk bagaimana membentuk mentalitas, daya tahan, serta karakter mahasiswa untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia nyata. Karena itu, pihaknya sangat berharap agar Unwira bisa merangkak ke arah itu. Yaitu, sebut Pater Yul, dengan topangan generasi baru yang lebih energik dan memiliki dasar keterampilan serta pengetahuan yang semakin maju, juga didukung oleh teknologi yang semakin canggih, Unwira bisa bertumbuh menjadi sebuah Perguruan Tinggi Swasta yang semakin baik.

Adapun penyusun skenario sekaligus sutradara teater ini adalah P. Yoseph Riang, SVD yang juga dosen Prodi Komunikasi Unwira. Asisten sutradaranya adalah P. Peter Than, SVD dan Fr. Sarnus Joni Harto, SVD. Sedangkan untuk pemeran teater dipercayakan kepada Program studi yang dipilih yakni terbanyak dari Program studi Ilmu Komunikasi, ada juga dari Teknik Sipil, Fakultas Ekonomi, Bimbingan Konseling dan Sendratasik. Jumlahnya 90 orang. Kalimat penyemangat dari teater ini berbunyi: “Selagi langit masih biru dan jantung jagat ini tetap berdetak nyalakanlah senantiasa obor perjuanganmu dan jangan pernah mengelu. Teruslah maju, gapailah masa depan yang lebih ceria. Unwira sang ibu kita di ulang tahunnya yang k- 40 ini, sedang menanti mimpi-mimpimu.”

Menurut P.Yoseph Riang, SVD, tetaer ini merupakan refleksi kritis atau kritik balik supaya ada sesuatu yang bisa dibuat untuk kemajuan Unwira ke depan. “Tetater ini berbicara tentang perjalanan Unwira, ada begitu banyak kemajuan misalnya soal jumlah mahasiswa dan pembangunan. Tapi ada juga kekurangan dalam pembangunan gedung misalnya, dan juga semangat pelayanan.” Artinya, lanjut Pater Ocep, di tengah semua kemajuan Unwira tersebut, masih ada banyak PR yang harus diselesaikan. Misalnya dibutuhkan gebrakan untuk peningkatan akreditasi prodi-prodi menjadi A dan juga harus ada guru besar atau dosen yg mendapat gelar profesor.

Kritik lainnya adalah soal hak-hak para dosen, pegawai dan juga mahasiswa yang selama ini sering kali diabaikan “Ada dosen, pegawai dan juga mahasiswa yang hak-hak mereka tidak terpenuhi selama ini. Sehingga kritik terhadap semangat pelayanan adalah untuk perbaikan. Sebab ada banyak mahasiswa yang selama ini mengeluh. Tetapi karena mereka dalam kondisi dinilai oleh dosen sehingga dalam kondisi ini mereka tidak bisa menyampaikan apa yang mereka rasakan,” kata Pater Ocep.


Imam muda SVD ini berharap agar dengan kritik dan perbaikan-perbaikan, Unwira bisa tumbuh menjadi universitas yang mempunyai nama besar bukan hanya di Nusa Tenggara Timur saja, tetapi juga bisa bersaing di tingkat Nasional bahkan Internasional.
Dosen Ilmu Komunikasi Unwira ini juga menjelaskan bahwa hasil dari kotak amal yang dibuat dalam pergelaran teater Widya Mandira ini akan digunakan oleh Panitia untuk kegiatan amal di Paroki Taklale, Kabupaten Kupang (Gusty Muda)

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.