Perarakan Patung Tuan Meninu, Ribuan Peziarah Daraskan Doa di Selat Gonsalu Larantuka  

Prosesi laut ini merupakan rangkaian kegiatan sakral yang berlangsung  setiap tahun dan dilaksanakan pada Jumat Agung. Ribuan umat peziarah nampak terlihat  memadati bibir pantai Kota Rowido hingga bibir pantai Susteran Balela, tidak hanya di bibir pantai kota Larantuka, para peziarah lainyapun mengikuti kapal-kapal laut yang sudah disiapkan. Perarakan patung Tuan Meninu ini berlangsung penuh khusyuk Jumat 7 April 2023 

Prosesi Semana Santa tahun ini sangatlah ramai sekali.  dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, umat Katolik di larantuka ataupun pulau sekitarnya tetap terlibat langsung  mengikuti upacara Prosesi laut arak patung Tuan Meninu

Patung Tuhan Meninu ini dikeluarkan dari Tori Tuan Meninu dan diarak lewat laut menuju armida (tempat persinggahan) Pohon Sirih di Pantai Kuce

Nampak terlihat Sebuah kapal yang berisikan tiga biarawati yang sedang mendaraskan Doa mengiringi Bero (Perahu) pembawa Tuhan Meninu dengan puja pujian doa-doa yang dilantunkan kepada Tuhan.

Seperti biasanya dalam susunan perarakan perosesi laut, di belakang perahu pembawa Tuhan Meninu, peledang para nelayan Lamalera dan puluhan sampan yang ditumpangi dua atau tiga orang yang mengenakan kaus hitam,  mereka ikut mengiringi dan mengapiti  patung bayi Yesus yang bersemayam di depan Bero (perahu).

Nyanyian pujian kepada Tuhan dan Bunda Maria serta doa yang disuarakan dengan penuh syahdu. Inilah umat Katolik di Larantuka menjadikan sosok Mater Dolorosa sebagai panutan kehidupan. Kisah ibu penuh kasih yang memberikan pengorbanan dan merelakan kepergian anaknya tercinta itu dielu-elukan para biarawati di sepanjang prosesi laut Tuan Meninu.

Beberapa kapal besar yang biasa digunakan sebagai angkutan laut di pulau-pulau seberang larantuka terlihat hampir mendahului kapal yang ditumpangi oleh biarawati. Umat peziarah yang ikut bersama kapal-kapal ini nampaknya mereka fokus menyaksikan jalannya prosesi  Tuan Meninu. 

Para petugas keamanan yang diterjunkan panitia terkadang  harus gesit mengatur alur lajunya perahu dan kapal-kapal dalam barisan prosesi laut ini.

Prosesi ini dikawal dengan baik agar berjalan dengan lancar samapai pada tujuan di pantai Kuce Ponsire.

Prosesi arak Tuan Meninu ini  adapun larangan-laranganya  yang harus diingat oleh para peziarah yang menggunakan kapal ataupun sampan. Karena dari dulu orang Larantuka meyakini bahwa kalau rombongan kapal-kapal ini mendahului kapal pembawa  biarawati ataupun perahu pembawa patung tuan Meninu akan mendapat celaka.

Dibawah teriknya matahari tak menjadi alasan bagi para peziarah. Mereka tetap berdiri di bagian depan kapal untuk mendengarkan doa yang berkumandang di Selat Gonsalu Larantuka.

Para Confreria pun menunggu perahu pembawa patung tuan Maninu di Pante Kuce, Setelah prosesi laut berlangsung sekitar  dua jam, arak-arakan  mengantar Tuan Meninu ini ahhkirnya tiba di Armida Pohon Sirih di Pantai Kuche.

Para Confreria, atau Laskar Maria, menyambut kedatangan perahu tersebut dengan  payung hitam. Patung tuan Meninu diturunkan dari perahu dan langsung diarak ribuan peziarah, menuju Gereja Katedral Renha Rosari Larantuka dan dilanjutkan dengn  prosesi malam hari.(Gusty/Chelle)

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *