Hari Rabu, 30 April 2025, di aula Goris Keraf, Dinas Pertanian Kabupaten Lembata mendadak penuh dengan wajah-wajah yang selama ini lebih akrab dengan ladang dan cangkul. Mereka datang bukan untuk pelatihan bertani seperti biasanya, tetapi untuk sebuah kegiatan yang agak berbeda: kehadiran para petani ini untuk membedah buku. Judul buku yang dibedah,“Nasihat Diri untuk Insan Produktif,” cukup provokatif bagi para penyuluh pertanian dan ketua Gapoktan yang hadir.
Ada sekitar 33 peserta mengikuti kegiatan, yang digelar oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DKP) Kabupaten Lembata.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni literasi. Menurut Kepala DKP Ansel Ola Bahy, acara ini merupakan bentuk konkret dari dukungan terhadap visi besar Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq dan Wakil Bupati H. Muhamad Nasir yang mengusung branding pembangunan NTT: Nelayan, Tani, dan Ternak. “Bedah buku ini adalah salah satu cara membentuk pola pikir produktif, yang kami harap akan merembes ke kehidupan para petani,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Buku yang dibedah ini, berisi 70 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup yang Produktif.
Sebuah bacaan ringan, namun padat makna.
Anselmus Bahy menegaskan bahwa tujuan utama acara ini adalah memantik kesadaran, bukan sekadar membaca. “Kami ingin peserta bukan hanya paham isi buku, tapi menerapkan dalam tindakan nyata,”
Menurutnya Peserta yang dilibatkan memang bukan sembarangan. Selain Koordinator Penyuluh Pertanian, juga hadir para Ketua Gapoktan se-Kabupaten Lembata, serta perwakilan dari Dinas Pertanian.
Menurut Plt. Sekretaris DKP Frans Sabaleku, pilihan ini strategis. “Penyuluh dan ketua Gapoktan adalah mata rantai penting antara pemerintah dan petani. Mereka adalah agen perubahan paling efektif,” katanya.
Frans menambahkan, membaca buku semacam ini bukan semata soal memperkaya wawasan. Lebih dari itu, ini soal membangun mentalitas baru di kalangan petani: berani berubah, produktif, dan berdaya.
“Kalau kita mau petani sukses, kita harus memulai dari pikirannya,” ujarnya Frans.
Lanjut Frans Sabaleku, bedah buku ini juga dimaksudkan untuk membuka ruang literasi di sektor pertanian, sektor yang selama ini dianggap jauh dari dunia buku. Akan tetapi menurut Frans, justru di situlah tantangannya.
“Literasi bukan milik guru atau siswa saja. Petani juga berhak untuk cerdas dan kritis,” karena Baca Buku itu tidak bisa di gantikan dengan tiktok dan nonton film, karena Kerja otak hanya bisa dilatih menjadi tajam kalau otak itu berdialog yaitu dengan Baca Buku,”jelas Frans
Kini saaatnya Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Lembata di bawah kepemimpinan Ansel Bahy tengah mendorong gerakan literasi lintas sektor. Bukan hanya di sekolah atau perpustakaan, tetapi hingga ke sawah dan kebun. “Literasi bisa jadi alat transformasi sosial, bahkan untuk reformasi pertanian,” ujarnya.
Dikatakanya bedah buku ini menjadi tonggak awal sebuah eksperimen sosial yang menyandingkan gagasan besar dan kehidupan nyata para petani. Jika berhasil, bukan tidak mungkin akan lahir petani-petani produktif sekaligus literat yang memahami perubahan bukan sekadar dari hasil panen, tapi dari cara berpikir.
Dengan membaca buku, para penyuluh dan Ketua Gapoktan kini tidak hanya membawa cangkul dan pupuk, tetapi juga ide dan semangat baru. Mereka diharapkan menjadi katalisator perubahan di Lembata membangun dari bawah, dengan pengetahuan dan nilai-nilai produktif dalam genggaman.
Petani literat mungkin terdengar ganjil hari ini. Namun, di Lembata, itu bukan utopia. Buku dan cangkul kini ada di tangan yang sama tangan petani yang mulai berpikir, bekerja, dan bergerak untuk perubahan,” tutup Frans Sabaleku.