Live in bagi mahasiswa merupakan program pendidikan lapangan di mana para mahasiswa bersosialisasi, dan melakukan kegiatan langsung bersama masyarakat, di daerah pedesaan atau lokasi yang memiliki budaya berbeda. Kegiatan ini bertujuan sebagai proses pembelajaran empati, pembentukan karakter, dan pengalaman. Singkatnya, live in bukan sekadar tinggal, melainkan “menjadi bagian” dari komunitas tersebut untuk belajar dari kehidupan sehari-hari warga setempat.
Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, S.P., didampingi Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah, Quintus Irenius Suciadi, S.H., M.Si., menerima audiensi Yayasan Swasti Sari Keuskupan Agung Kupang melalui STIPAS Keuskupan Agung Kupang terkait pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa Live In di Kabupaten Lembata.
Kegiatan Live In tersebut dijadwalkan berlangsung pada 15 hingga 23 April 2026, bertempat di Desa Hadakewa, Paroki St. Laurensius Hadakewa. Program ini melibatkan mahasiswa sebagai bentuk keterlibatan langsung dalam kehidupan umat dan masyarakat, sekaligus menjadi sarana pembelajaran pastoral dan sosial.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan mendorong pemberdayaan komunitas lokal serta memperkuat kehadiran mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, panitia menggelar Temu Alumni sebagai wadah refleksi, berbagi pengalaman, serta penguatan peran alumni sebagai mitra pastoral.
Untuk mendukung kelancaran kegiatan ini, STIPAS Keuskupan Agung Kupang secara resmi mengundang Bupati Lembata untuk hadir sekaligus membuka kegiatan Temu Alumni yang akan dilaksanakan pada Sabtu, 18 April 2026 pukul 09.00 WITA di Desa Hadakewa.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Lembata menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung penuh kegiatan pengabdian mahasiswa. Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir generasi muda agar lebih adaptif, mampu bersosialisasi, serta mengintegrasikan nilai doa dan kerja dalam kehidupan sehari-hari.
Bupati juga memaparkan sejumlah program prioritas daerah yang tertuang dalam RPJMD, khususnya di sektor perikanan, pertanian, dan peternakan. Ia menegaskan perlunya perubahan cara pandang dalam mengelola potensi daerah, termasuk dalam praktik beternak dan bertani yang lebih produktif dan berkelanjutan.
“Lembata memiliki banyak potensi yang perlu dikelola dengan baik. Kita harus mengutamakan ketenangan dalam membangun, bukan sekadar mengejar kesenangan. Pemerintah berjalan di atas kekuatan rakyat, karena suara rakyat adalah suara Tuhan,” ujar Bupati.
Sementara itu, Ketua STIPAS Keuskupan Agung Kupang, RD. Florens Maxi Un Bria, menyampaikan harapan agar kehadiran Bupati dapat menjadi bentuk dukungan nyata pemerintah daerah terhadap kegiatan pengabdian mahasiswa serta memperkuat sinergi antara gereja dan pemerintah dalam pembangunan masyarakat.
Ia juga menambahkan bahwa masyarakat Lembata patut bersyukur memiliki pemimpin daerah yang memahami sektor pertanian sebagai salah satu potensi utama daerah.
Pada akhir audiensi, RD. Florens Maxi Un Bria menyerahkan dua buah buku kepada Bupati Lembata, yakni Diplomasi Damai dan Gereja Selaras Zaman sebagai bentuk apresiasi dan penguatan literasi.
Kegiatan ini diharapkan mampu mempererat hubungan antara mahasiswa, alumni, dan masyarakat, serta memberikan kontribusi positif bagi pengembangan sosial dan pastoral di Kabupaten Lembata. **ProkompimPemKabLembata**