Oleh: Nefri Eken(Ma’Ne)Pemerhati Kesehatan
Sains telah mengubah HIV dari vonis mati menjadi penyakit kronis yang terkendali. Kini, giliran masyarakat yang diuji: mampukah kita menyembuhkan luka jiwa akibat diskriminasi?
“Virusnya bisa dikendalikan dengan medis, tetapi luka akibat stigma hanya bisa disembuhkan oleh penerimaan.” Kalimat itu menjadi cermin keras bagi perjuangan Orang Dengan HIV atau ODHIV di Indonesia hari ini.
Kemajuan terapi Antiretroviral ARV dan prinsip global U=U atau Undetectable = Untransmittable_ telah membuktikan: secara medis, HIV kini adalah kondisi kronis yang dapat dikelola. Namun di ruang sosial, ODHIV masih berhadapan dengan musuh yang berbeda: stigma, pengucilan, dan penolakan.
Selama puluhan tahun, HIV identik dengan ketakutan dan vonis akhir hidup. Kini narasi itu telah dipatahkan sains. Konsumsi ARV secara teratur mampu menekan virus hingga undetectable atau tidak terbaca laboratorium. Pada fase ini, ODHIV tidak dapat menularkan virus kepada pasangan, bahkan melalui hubungan seksual tanpa pengaman.
Secara fisik, ODHIV bisa hidup sehat setara masyarakat umum. Mereka bisa bekerja, menikah, dan memiliki anak yang negatif HIV. Sains telah mengubah keputusasaan menjadi harapan yang terukur.
Ironisnya, kemenangan medis itu belum diikuti kemenangan sosial. “Tantangan terbesar ODHIV hari ini bukan lagi melawan virus, melainkan melawan stigma,” demikian disampaikan Nefri Eken, Ma’Ne, Pemerhati Kesehatan, dalam refleksinya.
1. Kemenangan Medis: Formula U=U
Dunia medis global kini sepakat pada prinsip U=U. Undetectable berarti jumlah virus di darah ditekan serendah mungkin oleh ARV. Untransmittable berarti pada kondisi itu, penularan tidak terjadi.
“Medis menyembuhkan fisik. Dokter dan obat mengubah vonis kematian menjadi penyakit kronis yang terpantau,” jelas Nefri. Dengan kepatuhan minum obat, harapan hidup dan kualitas kesehatan ODHIV kini setara populasi umum.
2. Garis Depan Baru: Stigma Yang Membunuh Jiwa
Masalahnya ada di luar rumah sakit. Diskriminasi di tempat kerja, penolakan keluarga, hingga tatapan sinis di ruang publik menjadi “virus sosial” baru.
“Penerimaan menyembuhkan jiwa. Itu tugas kita, masyarakat,” tegas Nefri. Ia menyebut luka psikologis akibat penolakan bisa membekas seumur hidup, bahkan lebih cepat menghabisi semangat hidup dibanding virus itu sendiri.
Data dan laporan selama ini menunjukkan banyak ODHIV memilih sembunyi, putus obat, atau menarik diri karena takut dikucilkan. Padahal kepatuhan ARV adalah kunci agar tetap undetectable.
3. Dari Isolasi ke Penerimaan: Tugas kita bersama
Menghapus stigma, kata Nefri, bukan seremoni Hari AIDS Sedunia semata. Ini kerja kemanusiaan sehari-hari. Masyarakat diminta bergeser dari kacamata moralitas menghakimi ke kacamata empati dan sains.
“Ketika kita membuka pintu penerimaan tanpa syarat, tanpa penghakiman, kita memberi ruang bagi mereka untuk bernapas, berkarya, dan merasa utuh sebagai manusia,” ujarnya.
Sains sudah menunaikan tugasnya menyembuhkan tubuh. Kini giliran kemanusiaan yang diuji. “Kesehatan fisik tanpa penerimaan sosial hanyalah ruang hampa yang sunyi.
Pertanyaannya: bersediakah kita menjadi “obat” bagi jiwa-jiwa yang selama ini terisolasi?***