TMI Gandeng PT SMJ: Excavator, Air, dan Target 10 Ton Per Ha Jadi Kunci Petani Makmur
WAOWALA, ILE APE TIMUR – “Kalau cuma tunggu hujan, kita hanya bisa tanam sekali setahun. Petani harus berani target: setahun 3 kali panen!”
Penegasan itu disampaikan Ketua Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Lembata, Blasius Vigis Koban, saat turun langsung memantau 220 hektar lahan jagung di Desa Waowala, Kecamatan Ile Ape Timur, Kamis (11/6/2026). Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Blasius Vigis datang untuk memastikan lahan siap, dan mau mendengar keluhan, dan sekaligus memantik semangat petani Lembata untuk terus bergerak.
Tani Merdeka Indonesia (TMI) adalah organisasi sayap Partai Gerindra yang bertugas mengawal petani se-Indonesia.
Di kabupaten Lembata, Vigis melihat pekerjaan rumah masih besar. “Hari ini kelompok tani di bawah naungan PT SMJ sudah mulai di 220 hektar. Ini baru pemantik. Potensi kita 3.000 hektar berdasarkan citra satelit. PR kita masih 2.780 hektar,” ungkap Vigis, yang juga anggota DPRD Lembata Fraksi Gerindra, lewat pesan WhatsApp.
Keluhan Petani: Butuh Excavator dan Air, Bukan Janji
Di tengah hamparan lahan, petani Waowala blak-blakan ke Vigis. Mereka menyampaikan masalah dan kendala utama yakni: pohon besar masih penuhi lahan, alat tanam minim, pupuk langka, dan air menjadi penentu.
“Kami minta excavator untuk buka lahan, traktor, alat tanam, pupuk, dan sumur bor. Kalau air ada, jagung hibrida bisa 3 bulan panen. Setahun bisa 3 kali tanam. Jangan cuma suruh kami tunggu hujan,” tegas seorang petani.
Vigis langsung jawab tegas. Semua aspirasi dicatat dan akan dibawa ke DPN TMI di pusat. “Mekanisasi dan air adalah kunci. Kalau ini beres, Lembata stop impor jagung. Kita yang kirim keluar,” katanya.
Dari 220 Ha Menuju 21 Ribu Ton: Hitungan TMI Bikin Petani Melek Target
Saat ini 220 Ha lahan di Waowala sedang panen dan pipil, belum bisa tembus 1.000 ton. Tapi Vigis sudah buka hitungan ke depan bersama PT SMJ dan penyuluh.
Menurut Vigis Skemanya jelas. Kalau kita kelola 1.000 sampai 3.000 Ha, hasil bisa 5 sampai 7 ton per Ha. Artinya 1.000 Ha dapat 5.000-7.000 ton. Kalau 3.000 Ha, maka petani bisa panen tembus 15.000 sampai 21.000 ton,” beber Vigis.
Kuncinya di pupuk dan air. “Kalau pupuk dan pengairan bagus, 10 ton per Ha itu masuk akal. Jadi 1.000 Ha sama dengan 10.000 ton per musim tanam. Ia juga mengingatkan para petani, terhadap jagung hibrida harus 3 kali setahun. Satu musim hujan, dua musim pakai sistem siram. Petani pasti makmur kalau kerja pakai target,” tegas Vigis Koban meyakinkan petani.
Kerjasama TMI & PT SMJ Perkuat, Singkong dan Garam Jadi Peluang
Selain itu Vigis juga memastikan kerjasama dengan PT SMJ tidak main-main. Menurutnya lahan potensial membentang sepanjang jalur menuju Tanjung. Selain jagung, TMI juga bidik komoditas singkong dan garam untuk tambah penghasilan petani.
Blasius Vigis Koban, Ketua Tani Kabupaten Lembata, yang ikut turun ke lahan di sela agenda penutupan Piala U-15, mendukung penuh. “Mekanisasi harga dengan harapan Petani Waowala harus jadi contoh,” ujarnya.
Sementara Korep PT SMJ, Stanislaus Kebesa Langoday, ikut menantang. “Jangan berhenti di kunjungan. DPN pusat harus dengar langsung. Kami petani siap kerja, asal alat dan air ada. Petani Lembata harus jaya,” tegas Stanis.
AJAKAN UNTUK PETANI LEMBATA
1. Stop Tunggu Hujan: Targetkan 3 kali tanam setahun dengan sistem siram
2. Kerja Pakai Hitungan: 1 Ha = 10 ton kalau pupuk dan air cukup
3. Buka Lahan Tidur: Dari 220 Ha menuju 3.000 Ha. Potensi 21.000 ton di depan mata
4. Kawal Kerjasama: TMI, PT SMJ, dan penyuluh siap dampingi. Petani tinggal gas kerja
DATA KUNCI
Lokasi: Desa Waowala, Kec. Ile Ape Timur, Kab. Lembata
Lahan Aktif: 220 Ha – tahap panen & pipil
Potensi Total: 3.000 Ha
Target Produksi: 10 ton/Ha/musim. 3.000 Ha = 30.000 ton/musim. 3 musim = 90.000 ton/tahun
Pola Tanam: 1x hujan + 2x siram
Kebutuhan Mendesak: Excavator, traktor, alat tanam, pupuk, sumur bor
Kemitraan: TMI x PT SMJ + Penyuluh Komoditas Tambahan: Singkong, garam di jalur Waowala Tanjung.***