Festival Lamaholot Hari Ketiga: Menampilkan Budaya, Tenun, dan Konservasi Laut

Pantai Wulen Luo dipadati pameran tenun se-NTT. Panitia juga gelar post tour ke Kampung Adat Watun Lewopito dan Festival Muro Kolontobo.

 

LEWOLEBA, 3 Juli 2026 – Festival Internasional Lamaholot 2026 memasuki hari ketiga dengan agenda yang semakin beragam. Mulai dari pameran tenun, post tour budaya, hingga pentas seni, semua dikemas untuk memperkenalkan keseharian hidup masyarakat Lembata kepada dunia.

 

Sejak pukul 09.00 hingga 22.00 WITA, kawasan Pantai Wulen Luo, eks Harnus Lewoleba, menjadi pusat aktivitas budaya yang melibatkan komunitas adat, pelaku ekonomi kreatif, wisatawan mancanegara hingga domestik.

 

Sorotan utama hari ketiga adalah pameran tenun Lamaholot. Puluhan penenun dan pelaku Ekraf dari Lembata, Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, hingga Nagekeo memamerkan ragam motif khas Flores dan Lembata.

 

“Kegiatan ini menjadi ruang promosi sekaligus pertemuan budaya antarwilayah melalui ragam motif dan kekayaan tenun tradisional,” jelas Kepala Dinas Pariwisata Lembata, Jack Wuwur.

 

Selain di pantai, panitia juga menggelar post tour budaya ke Kampung Adat Watun Lewopito, Desa Lamagute dan Festival Muro di Desa Kolontobo. Rombongan diajak melihat Utan Werun atau Pesta Kacang, santap siang bersama warga, lalu menutupnya dengan agenda konservasi laut di Kolontobo.

 

Sejak pagi Pantai Wulen Luo dipadati pengunjung. Stan-stan tenun menampilkan warna, motif, dan filosofi yang berbeda dari setiap daerah. 

 

Bagi pelaku Ekraf, festival ini bukan sekadar pameran. Ini panggung untuk memperluas jaringan dan mengenalkan produk tenun ke pasar wisatawan internasional.

 

Panitia festival Lamaholot juga sengaja membawa peserta keluar dari Lewoleba. Tujuan pertama: ke kampung Adat Watun Lewopito. Di sana wisatawan disambut tradisi Utan Werun, pesta kacang yang menjadi identitas masyarakat setempat.

 

Setelah makan siang bersama, rombongan bergeser ke Desa Kolontobo untuk Festival Muro. Temanya konservasi laut. Peserta diajak memahami bagaimana masyarakat pesisir menjaga laut secara turun-temurun.

 

“Kegiatan ini memperkenalkan kekayaan tradisi lokal sekaligus praktik pelestarian lingkungan,” ujar panitia.

 

Pukul 18.00 WITA, Pantai Wulon Luo kembali hidup. Desa Wisata Lolong, Desa Wisata Labalimut, sanggar sekolah, dan komunitas musik tampil bergantian. 

 

Adapun tarian tradisional, musik modern, hingga kolaborasi yang memadukan keduanya. Ribuan pengunjung memadati tepi pantai hingga pukul 22.00 WITA.

 

Pada Rangkaian hari ketiga ini menegaskan posisi Festival Internasional Lamaholot. Bukan hanya pesta budaya, tapi juga wadah pelestarian, penguatan ekonomi kreatif, promosi desa wisata, dan ruang temu antara masyarakat adat dengan dunia luar.

 

Dengan total agenda dari pagi hingga malam, festival ini berhasil menunjukkan bahwa budaya Lembata hidup, bergerak, dan siap diperkenalkan tanpa kehilangan jati diri.***

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *