Antara Kata-Kata dan Kenyataan: Terkait MBG, Benarkah Presiden Mendapat Informasi Yang Jujur dari Kepala BGN?

Oleh: Cornelis Ndapamerang

 

Kita tidak menolak program baik. Tapi kita menolak kebohongan yang dibungkus indah. Negara ini butuh pemimpin yang tahu kenyataan, dan butuh pejabat yang berani jujur  bukan mereka yang pandai merangkai kata supaya terlihat hebat di mata atasan, tapi kosong dan jauh dari kenyataan di mata rakyat.

 

Menyaksikan cuplikan video yang beredar di Media terkait pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, yang disampaikan langsung di depan Presiden Prabowo: soal Makan Bergizi Gratis (MBG) lauk ikan lele yang dipotong dan kepalanya dibuang, juga soal satu ekor sapi utuh dipakai untuk memasak satu kali di setiap dapur MBG, sampai hitungan ada ribuan sapi harus disembelih sehari jika semua dapur masak daging sapi sekaligush.

 

Pertanyaan besarnya: Apakah semua itu benar-benar terjadi di lapangan, atau sekadar cerita indah yang disusun agar Presiden percaya program ini hebat dan megah?

 

Kita lihat kenyataannya:

Soal lele: Di lapangan, yang disajikan kebanyakan potongan kecil, bukan utuh, apalagi sampai membuang kepalanya yang justru masih ada dagingnya. Kalau benar dibuang, itu pemborosan luar biasa, padahal rakyat banyak yang masih susah makan. Tapi apakah laporan ini disampaikan apa adanya? Atau hanya versi indah yang sampai ke telinga presiden?

 

Begitu juga Soal sapi: 

Awalnya dikatakan butuh ribuan ekor sehari, lalu diluruskan: “Ah itu cuma hitungan andaian saja, bukan nyata” . Wah, Berani menyampaikan ( Kebohongan) hal sebesar itu seolah fakta, dengan keyakinan, padahal cuma khayalan hitungan? Ini bukan soal salah hitung, tapi soal kebenaran informasi yang sampai ke pemimpin negara.

 

Yang paling membuat hati miris: Apakah Bapak Presiden tahu hal yang sebenarnya? Atau beliau hanya mendengar apa yang mau didengar saja? Apakah ada yang berani jujur bilang: “Pak Presiden, ini tidak seperti laporan, dagingnya sedikit, ikannya dipotong-potong, dan apa yang disampaikan itu beda jauh dengan kenyataan”?

 

Ini bahaya besar, Bapak/Ibu sekalian. Kalau pemimpin negara saja diberikan data yang dilebih-lebihkan, dihias-hias, atau bahkan dibuat-buat seolah nyata, lalu beliau percaya sepenuhnya — apakah ini bukan sebuah kebohongan yang sistematis?

 

Bagaimana kita bisa percaya pada pelaksanaan program sebesar ratusan triliun rupiah, kalau dari laporan paling dasar saja sudah ada yang diubah-ubah kenyataannya? Bagaimana rakyat bisa percaya, kalau apa yang disampaikan ke pucuk pimpinan ternyata bukan fakta sesungguhnya?

 

Masalahnya bukan cuma salah lapor, tapi ketidakjujuran yang disebarluaskan, yang membuat Presiden seolah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana. Apakah beliau sadar ada jarak begitu lebar antara apa yang dikatakan pejabatnya dan apa yang dirasakan rakyat?

 

Apakah menurutmu Presiden Prabowo tahu atau tidak tahu semua ini?*** 

 

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *