Post Tour Hari Ketiga: Festival Lamaholot Ajak Wisatawan Naik ke Kampung Adat Lamagute

Setelah dari Desa Muruona, peserta mendaki ke Kampung Adat Lamagute. Disambut upacara adat, kuliner lokal, hingga kunjungan ke 7 rumah adat suku

 

LAMAGUTE- Rangkaian post tour hari ketiga Festival Internasional Lamaholot 2026 berlanjut ke Kampung Adat Watun Lewopito, Desa Lamagute. Peserta diajak menaklukkan “Tangga Seribu” sebelum disambut upacara adat yang khidmat.

 

Setibanya di kampung, wisatawan mancanegara dan domestik langsung diajak menyelami keseharian warga. Mulai dari kuliner lokal, kerajinan tenun ikat, hingga ritual Sole Oha bersama masyarakat adat Lamaholot.

 

Perjalanan dimulai setelah kunjungan dari Desa Muruona. Rombongan melanjutkan pendakian melalui ratusan anak tangga menuju Kampung Adat Watun Lewopito. Jalur yang dijuluki “Tangga Seribu” ini menjadi gerbang masuk ke jantung budaya Lamaholot.

 

Di puncak, peserta disambut upacara penyambutan tamu secara adat. Setelah itu, rombongan menuju lokasi Namang untuk mendengarkan penjelasan adat sambil menikmati makan siang bersama dengan kuliner khas masyarakat Watun Lewopito.

 

Agenda dilanjutkan dengan kunjungan edukatif. Peserta melihat langsung proses pembuatan kerajinan tenun ikat tradisional, pembuatan jagung titi, dan penyulingan arak lokal. Rombongan juga berkeliling ke rumah adat Utan Wun Lolon milik tujuh suku: Betekeneng, Lemanuk, Bleker, Teken Buto, Atwatung Sarigading, Beni Kakan, dan Lawi Gesi. Kegiatan ditutup dengan tarian Sole Oha bersama masyarakat adat.

 

Pendakian Tangga Seribu bukan sekadar jalur fisik. Ia menjadi pembuka narasi. Setiap anak tangga membawa peserta semakin dekat dengan nilai, sejarah, dan cara hidup masyarakat Watun Lewopito.

 

Belajar Langsung dari Tangan Penenun  

Di kampung Adat tersebut, peserta tidak hanya melihat. Mereka diajak memahami proses. Dari mengikat benang tenun, menumbuk jagung titi, hingga proses fermentasi arak. Semua dilakukan oleh tangan-tangan warga sendiri.

 

Kunjungan ke rumah adat Utan Wun Lolon ini jadi puncak edukasi budaya. Disitu ada Tujuh rumah adat dari tujuh suku berbeda berdiri berdampingan. Ini bukti kuatnya kebersamaan dalam keragaman di Lamagute.

 

Kegiatan  hari ketiga ditutup dengan tarian lingkaran Sole Oha. Peserta dan warga bergandengan tangan, menari bersama di pelataran kampung. Sebuah penutup yang hangat untuk pengalaman budaya yang dalam.***

 

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *