Plan Indonesia Gelar Workshop Cegah HIV AIDS di Lembata, Nefri Eken; Minta Peran Desa dan Sekolah Perkuat Edukasi

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Lembata, Nefri Eken yang lazim disapa “Ma Ne”, menghadiri kegiatan Workshop Pencegahan, Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) melalui Program Implementasi Area Lembata yang berlangsung di Aula Ballroom Olympic Lewoleba Lembata.

Kegiatan workshop  ini merupakan bagian dari program kesehatan yang menyasar remaja, sekolah, komunitas, serta seluruh unsur pemangku kepentingan di Kabupaten Lembata.

Nefri Eken saat memberikan materi pada kegiatan ini menyampaikan apresiasi dan dukungannya atas bergabungnya Plan Indonesia dalam upaya pencegahan HIV/AIDS di Kabupaten Lembata.

Ia menerangkan bahwa dari data terakhir tahun 2023 terdapat 507 Wanita Pekerja Seksual (WPS) yang mana 105 berusia 15-16 tahun dan 218 berusia 17-19 tahun,”beber Nefri Eken.

Menurutnya ada empat faktor yang mengakibatkan seseorang menjadi WPS yaitu, Faktor Fantasi seksual, Faktor Gaya Hidup, Faktor Germo dan Faktor Ekonomi,”ujar Nefri.

Dari 507 WPS ini sebanyak 318 yang sudah dilakukan pemeriksaan oleh KPAD Kabupaten Lembata, terdapat 7 orang yang positif HIV dan sudah meninggal dan yang lain dinyatakan sifilis.

Bagi Nefry, yang menjadi tantangan utama yang selama ini dihadapi KPAD Kabupaten Lembata adalah keterbatasan anggaran dan fasilitas untuk pendampingan serta advokasi populasi kunci, termasuk pendampingan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) untuk memutus mata rantai penyebaran HIV,”ungkap Nefri.

Untuk itu Ia berharap agar adanya, kolaborasi lintas sektor. Hal ini sangat penting untuk memperkuat upaya pencegahan ini.

“Kami di KPAD ini memiliki hambatan dalam hal keterbatasan anggaran. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk memperkuat upaya pencegahan ini.

Nefri juga menegaskan pentingnya peran desa dan sekolah dalam edukasi untuk menciptakan lingkungan yang bebas stigma terhadap ODHA-ODHIV untuk mendukung upaya pencegahan berkelanjutan.

“Peran Desa dan Sekolah sangat penting dalam memberikan edukasi untuk menciptakan lingkungan yang bebas ODHA-ODHIV dalam hal upaya Pencegahan,” tegas Nefri.

Selain itu Nefri juga berharap agar Desa juga bisa anggarkan untuk sosialisasi rutin lalu undang KPAD untuk sosialisasi, sedangkan sekolah bisa mengalokasikan waktu dan mengundang KPAD untuk memberikan sosialisasi dan edukasi terkait pencegahan HIV. 

Nefri meyakini bahwa ketika semua upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak ini tentu kedepan akan semakin kuat jika ditindaklanjuti oleh pemerintah kabupaten dengan membentuk satuan tugas pencegahan HIV/AIDS.

Tidak hanya itu, Nefri Eken juga secara gamblang melansir di akun Facebooknya, memaparkan beberapa hal penting untuk diketahui,  terkait beberapa aspek  perilaku seksual dan pencegahan HIV-AIDS di Lembata yakni; Berdasarkan Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan tentang HIV-AIDS yang baik dapat mempengaruhi sikap pencegahan pada remaja. Namun sepanjang ini, masih banyak remaja di Lembata  yang memiliki pengetahuan yang minim tentang HIV-AIDS, sehingga sangat  berisiko dalam melakukan perilaku seksual yang tidak aman.

Perilaku seksual berisiko ini, seperti hubungan seksual sebelum menikah atau dengan pasangan, dapat meningkatkan risiko penularan HIV. Namun, para remaja masih melakukan perilaku ini karena kurangnya pengetahuan atau kesadaran tentang risiko.

Untuk itu perlunya Pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS ini melalui pola pendekatan yang komprehensif, termasuk edukasi, tes HIV, dan pengobatan antiretroviral. Akan tetapi masih ada tantangan dalam implementasi program pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS ini terhadap kalangan remaja.

Ada beberapa faktor pemicu lainya yang dapat mempengaruhi perilaku seksual remaja dalam konteks pencegahan HIV-AIDS adalah; Karakteristik remaja, seperti usia jenis kelamin, dan latar belakang sosial juga dapat mempengaruhi perilaku seksual mereka.

Pengetahuan dan kesadaran tentang HIV-AIDS dan perilaku seksual remaja dalam Lingkungan sosial juga dapat mempengaruhi perilaku seksual remaja, termasuk pengaruh teman sebaya dan keluarga.

Untuk mengatasi paradoks ini, Nefri Menyarankan, perlu dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS yang komprehensif, termasuk edukasi, tes HIV, dan pengobatan antiretroviral. Selain itu, perlu juga dilakukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja tentang HIV-AIDS, serta mempromosikan perilaku seksual yang aman dan sehat,”pungkas Nefri Eken.

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *