Sastrawan dan dosen senior Fakultas Sastra Universitas Senata Dharma Jogjakarta, Dr. Yosep Yapi Taum, M.Hum
Menyampaikan proficiat atas Hari Ulang Tahun Otda kabupaten Lembata yang ke 23, ungkapan ini disampaikan langsung saat acara Lounching buku Lembata Dalam Sejarah & Pergumulan Otonominya. Di Hotel Palm Indah Lewoleba Kabupaten Lembata 12/10/2022
Dr, Yoseph Yapi Taum kepada para undangan di Aula Hotel Palm Indah mengatakan momentum Hut Otonomi Lembata ke 23 ini mengingatkan kita kembali bahwa dahulu kala para pejuang otonomi Lembata yang meperjuangkan wiayah-wilayahnya di Indonesia, mulai dari daerah Kabupaten dan Provinsi akan tetapi perjuangan otonomi Lembata memilikih eksistensi Historis filosofis yang cukup kritis dan ini merupakan suatu fenomena yang luar biasa.
Perjuangan otonomi Lembata memilikih basis historis dan filosofis yang di latarbelakangi sejarah yang sangat panjang karena itu ijinkanlah saya untuk menjawab sebuah pertanyaan yakni,”Apa yang sudah kita petik dari sebuah perjuangan untuk masa depan kabupaten Lewotana kabupaten Lembata,”ungkap Yapi Taum.
Dikatakanya, Lewotana Lembata adalah sebuah payung besar untuk melindungi semua masyarakatnya. Dibawah payung besar ini berlindung suku-suku, bahasa dari zaman dan adat yang berbeda-beda.
Lembata juga merupakan sebuah taman yang indah yang bisa menerima perbedaan. Karena Sejak awal Lembata dihuni oleh masyarakat Lembata yang pluralisme dan multikulturalisme. Sejak adanya persatuan yang di bangun oleh masyarakat Lewotana Lembata kini menjadi sangat baik dan dasyat nilai persatuannya.”Kata Yapi Taum
Lanjut Yapi Taum, imbas dari buku sejarah yang ditulis sastrawan Bapak Thomas Atalajar yang kita luncurkan ini menegaskan bahwa, demokrasi yang harus dikukuhkan di Lembata adalah model demokrasi yang multukutural bukan militaria. Karena itu, Lembata harus dipimpin dan dibangun dengan ide titian dan pengetauhan. Dengan demikian maka Lembata bisa maju dan berkembang mekar seperti bunga berwarna warni.
Menurut Dr, Yoseph Yapi Taum, Lembata tidak bisa dibangun dengan kekuasaan yang memaksah konsep primodialisme suku serta perbedaan bahasa dan budaya.
Perjalanan kekuasaan di Lembata ini sebagai jalan untuk mendapatkan kekuasaan politik yang harus jelas. Tidak seperti di tempat lain dan ini tidak boleh digunakan di Lembata. Jika kita gunakan maka kita mengkhianati para pejuang otonomi di Lembata dan jangan kita membuat rakyat Lembata terus menerus gelisa.
Lembata yang baik harus dipimpin oleh kaum cendikiawan yang memperjuangkan otonomi Lembata. Lembata tidak lagi terpuruk dan terbelakang. Karena para pejuang otonomi saat itu pada umumnya guru-guru sekolah dasar yang tidak memburu kekuasaan.
Kebersamaan yang dibangun didalam perbedaan itulah yang membuat tanah Lembata akan tampil dengan kesegaran dengan perhiasan-perhiasan bagai bunga mekar dipagi hari. Keindahan dan kesegaran Lembata ini sudah dirasakan banyak orang ketika mengunjungi tanah Lembata.
Sastrawan perempuan Indonesia Sari Narulita pernah menggambarkan keramaahan Ata Lembata dalam Novelnya,”Cintaku di Lembata,”Kau tak pernah cerita bahwa bulan lebih besar dan dilihat dari jauh, aku juga tak pernah tahu bahwa langit di Lembata lebih biru dan lautannya begitu jernih.
Sekali lagi saya ucapkan dirgahayu Otonomi Lembata yang ke 23,” demikian tutup Yapi Taum. (Gusty, Chelle)