Narasumber sepakat teknologi harus dimanfaatkan untuk dokumentasi dan promosi. Keluarga disebut sebagai benteng utama pelestarian bahasa dan adat.
LEWOLEBA, 4 Juli 2026 – Eksistensi budaya Lamaholot di tengah derasnya arus digitalisasi menjadi sorotan utama dalam talkshow budaya Festival Internasional Lamaholot 2026 di Lewoleba.
Para narasumber menegaskan bahwa teknologi digital seharusnya menjadi alat untuk memperkuat identitas budaya, bukan menggantikannya. Lemahnya regenerasi, mulai dari bahasa daerah hingga keterampilan menenun, menjadi tantangan terbesar saat ini.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Lembata, Anselmus Assan Olla, menyoroti krisis regenerasi. Menurutnya, unsur budaya seperti bahasa daerah dan pakaian adat mulai ditinggalkan generasi muda.
“Bahkan ada orang asing yang lebih fasih berbahasa kita dibanding anak-anak kita sendiri,” ujarnya. Ia mendorong lahirnya karya kreatif berbasis budaya seperti film animasi cerita rakyat, dan menekankan pentingnya pembiasaan bahasa ibu di keluarga.
Sementara itu, Kepala Dinas Kominfo Petrus Demong mengingatkan perubahan adalah keniscayaan. Ia menyebut pemerintah telah membangun 37 titik infrastruktur telekomunikasi di 9 kecamatan. Harapannya, lahir platform digital lokal dan setiap OPD memiliki akun media sosial resmi untuk mempromosikan budaya.
Peneliti tenun Lamaholot, Miss Linda, dan Kepala Bappelitbangda Dokter Manto sepakat. Era digital justru peluang. Dokumentasi digital, ekonomi kreatif berbasis tenun, hingga konsep lokal muro dan duang yang sudah masuk RPJMD, disebut sebagai langkah nyata menjaga budaya tetap hidup.
Anselmus Assan Olla membuka diskusi dengan data pahit. Bahasa Adonara dan busana adat kian asing di telinga dan tubuh generasi muda.
Ia mencontohkan aturan di rumahnya: Sabtu-Minggu wajib berbahasa Adonara, HP baru boleh dipakai setelah itu.
“Pertanyaannya, apakah kita membiarkan budaya Lamaholot tinggal menjadi kenangan atau mewariskannya kepada generasi berikutnya?” tegasnya.
Petrus Demong dari Kominfo menyebut digital adalah keniscayaan. Infrastruktur di Lembata sudah menjangkau 37 titik, meski daerah 3T masih butuh dukungan seperti Starlink.
Ia menyebut perlunya langkah dorong setiap OPD untuk punya medsos resmi, kuatkan literasi dan etika digital.
Miss Linda, peneliti tenun, menambahkan Instagram dan website bisa jadi etalase tenun. Tapi syaratnya: motif, makna, dan cerita di balik kain harus tetap dijaga. “Jangan hanya jual bentuknya, jual juga filosofinya,” katanya.
Kepala Bappelitbangda Dokter Manto menegaskan budaya bukan lagi urusan festival saja. Dalam RPJMD 2025-2045, konsep lokal seperti muro dan duang sudah masuk sebagai dasar pembangunan berkelanjutan.
Terkait Literasi budaya, ekonomi budaya, pendidikan, gender, hingga ekologi budaya. Ia jujur mengakui belum fasih bahasa daerah, dan itu jadi pengingat agar ruang bagi anak muda diperluas.
Sekretaris Dinas Pariwisata Kristianus Molan menyoroti fakta: banyak anak muda usia 25 tahun sudah tidak bisa menenun.
Solusinya, arsipkan cerita rakyat, bahasa ibu, dan tradisi adat secara digital. “Jika tidak, kita berisiko kehilangan warisan yang selama ini hanya dituturkan dari mulut ke mulut,” ujarnya.
Menutup talkshow, Anselmus mengajak semua pihak bergerak. Ia mencontoh komunitas yang mendokumentasikan tenun dari kapas ke kain dengan biaya sendiri.
“Pemerintah adalah fasilitator. Yang kita butuhkan sekarang adalah kemauan, kolaborasi, dan daya dorong agar budaya Lamaholot tetap kuat di tengah perubahan zaman,” pungkasnya.***