LEWOLEBA – Forum Jurnalis Lembata/FJL bersama Yayasan PLAN Indonesia meluncurkan Buku Panduan Peliputan Ramah Anak di Ballroom Olympic Lewoleba, Selasa 16/6/2026. Peluncuran buku saku ini mendapat apresiasi sebagai langkah maju mendorong praktik jurnalistik yang berpihak pada perlindungan anak.
Ketua FJL Alexander Paulus Taum menegaskan buku saku ini jadi pengingat penting agar jurnalis menggunakan bahasa beretika. “Anak tidak boleh jadi korban dua kali. Korban karena peristiwanya, lalu korban lagi karena identitasnya dibuka media. Karena itu diksi harus berbasis perlindungan,” tegasnya.
Sekretaris Aldiras, Elias Keluli, mengatakan media mainstream memiliki peran penting sebagai penjaga moral bahasa masyarakat, selain lembaga pendidikan dan agama.
Karena itu, menurutnya, setiap produk jurnalistik harus memperhatikan pilihan kata dan dampaknya terhadap publik.
“Tidak semua hal harus ditulis. Pilihan kata sangat penting. Bahasa media tidak boleh melakukan jebakan sosial. Diksi atau kata yang dipilih media harus netral,” ujar Elias.
Ia menegaskan bahwa tidak hanya bahasa tulisan yang perlu diperhatikan, tetapi juga penggunaan foto dalam pemberitaan. Menurutnya, foto merupakan bentuk bahasa lain yang memiliki aturan dan etika tersendiri, terutama dalam peliputan yang melibatkan anak-anak.
“Foto adalah ungkapan dalam bahasa yang lain. Karena itu, penggunaannya juga harus memperhatikan aspek human interest dan perlindungan hak individu,” katanya.
Elias juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap hak atas tubuh dan identitas seseorang. “Yang punya hak atas tubuh saya adalah diri saya sendiri,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengapresiasi PLAN Indonesia yang telah menginisiasi kegiatan dengan melibatkan anak-anak melalui Youth Advisory Panel (YAP), sehingga mereka dapat belajar menggunakan kalimat dan bahasa yang baik sejak dini.
Ia juga mendorong Aparat Penegak Hukum (APH) untuk terus menjaga moral bangsa dengan menerapkan bahasa yang berbasis perlindungan dalam berbagai bentuk komunikasi publik. Kepada insan pers, Elias berpesan agar terus meningkatkan kualitas literasi.
“Kalau ingin menulis, harus banyak membaca,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden Direktur Nimo Tafa Institute, Eman Krova, memberikan apresiasi kepada PLAN Indonesia dan Forum Jurnalis Lembata atas inisiatif menghadirkan panduan peliputan ramah anak.
Menurutnya, perhatian terhadap cara berbahasa menjadi sangat penting karena berkaitan dengan upaya menjaga generasi penerus bangsa.
“Kenapa anak harus aman dalam berbahasa? Karena bangsa ini tidak mau kehilangan generasi,” kata Eman.
Ia menjelaskan bahwa dalam jurnalistik, pemilihan diksi, makna, dan konteks sangat menentukan bagaimana sebuah fakta dipahami publik. Meski fakta yang disajikan sama, cara penyampaiannya dapat menghasilkan dampak yang berbeda.
“Perintah jurnalistik itu tegas, lugas, dan jelas. Fakta yang sama tetapi cara penyajian berbeda,” ujarnya.
Eman menilai Forum Jurnalis Lembata telah mengambil langkah berani dengan menyusun dan meluncurkan buku panduan tersebut.
Namun, ia mengingatkan bahwa penerbitan buku saja belum cukup.
“Sudah banyak kalangan yang berteriak tentang pemberitaan ramah anak dan berbasis perlindungan anak, tetapi belum banyak daerah yang berani mengambil langkah nyata. Saya kaget FJL berani mengambil langkah ini. Tetapi tidak cukup hanya dengan buku panduan, harus menjadi langkah konkret dalam praktik jurnalistik sehari-hari,” tegasnya.
Sebagai puncak kegiatan, dilakukan launching Buku Panduan Peliputan Ramah Anak melalui pemindaian (scan) barcode secara simbolis.
Prosesi tersebut dilakukan bersama oleh perwakilan Youth Advisory Panel (YAP), Pondok Perubahan, Forum PUSPA, Presiden Direktur Nimo Tafa Institute, Sekretaris Aldiras, serta Forum Jurnalis Lembata.
Peluncuran buku tersebut diharapkan menjadi tonggak penguatan praktik jurnalistik yang lebih sensitif terhadap hak-hak anak, sekaligus mendorong penggunaan bahasa yang aman, netral, dan berbasis perlindungan dalam ruang publik.***