May Day di Pelabuhan Lewoleba: Hangat, Bersahaja, dan Sarat Makna Kemanusiaan

Hari Buruh Sedunia (1 Mei/May Day) bermakna sebagai simbol perjuangan global terhadap pekerja demi keadilan, kesejahteraan.selain itu Hari buruh sedunia juga merupakan momen refleksi, sekaligus ajang untuk mempererat persatuan antarpekerja di seluruh dunia dalam memperjuangkan kesetaraan.

 

Pagi itu, semilir angin laut di pelataran eks Harnus Lewoleba membawa suasana berbeda. Tidak ada teriakan lantang atau barisan demonstran seperti yang kerap identik dengan peringatan Hari Buruh Sedunia di banyak tempat. Di sini, di ujung timur Nusa Tenggara, May Day justru hadir dalam wajah yang hangat, penuh kekeluargaan, dan menyentuh sisi kemanusiaan.

 

Perayaan yang digelar oleh SPSI Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Pelabuhan Lewoleba diawali dengan misa syukur yang dipimpin oleh Romo Christian Uran, Pr, Pastor Paroki Santo Yoseph Waikilok. Litani doa-doa yang dipanjatkan seolah menjadi napas awal dalam seluruh rangkaian kegiatan mengikat rasa syukur para buruh yang setiap hari bergelut dengan kerasnya pekerjaan di pelabuhan.

 

Hadir dalam kesempatan itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Lembata, Quintus Irenius Suciadi, yang mewakili Bupati Lembata membacakan sambutan resmi. Dalam pesannya, pemerintah menyampaikan apresiasi atas dedikasi para buruh, khususnya TKBM yang menjadi garda terdepan dalam menjaga kelancaran distribusi barang di daerah kepulauan ini.

 

Di balik sambutan formal itu, terselip pengakuan jujur: bahwa pemerintah belum sepenuhnya mampu memenuhi semua kebutuhan para pekerja. Namun ajakan untuk terus memperkuat sinergi dan semangat membangun Lembata menjadi benang merah yang digaungkan.

 

Ketua TKBM Pelabuhan Lewoleba, Hendrikus Buran, berbicara dengan nada tenang namun penuh makna. Ia menggambarkan bagaimana buruh di Lembata memilih jalan yang berbeda dalam menyuarakan aspirasi.

 

“May Day di tempat lain mungkin diwarnai demonstrasi, tapi kami di Lembata memilih menyampaikannya dengan sopan santun,” ungkapnya.

 

Menurutnya buruh bukan sekadar soal tenaga kasar atau label kurang berpendidikan. Di balik itu, ada nilai yang dijunjung tinggi budaya Kelamaholotan yang mengajarkan hormat, etika, dan kebersamaan. Para buruh tidak hanya bekerja untuk menghidupi keluarga, tetapi juga terlibat aktif dalam kehidupan sosial dan keagamaan, bahkan membantu pembangunan rumah-rumah ibadah.

 

Di pelabuhan yang menjadi pintu masuk utama Lembata, para buruh setiap hari memikul lebih dari sekadar barang. Mereka memikul tanggung jawab menjaga denyut ekonomi daerah sekaligus menjadi wajah pertama yang menyambut siapa pun yang datang di daerah kabupaten Lembata.

 

Namun di tengah kesederhanaan itu, ada harapan yang disampaikan dengan tulus. Para buruh ingin didengar. Mereka mendambakan ruang dialog yang terbuka dan kebijakan yang adil bukan hanya untuk segelintir, tetapi untuk semua.

 

Perayaan May Day tahun ini mengusung tema “Dengan semangat May Day 2026, TKBM Pelabuhan Lewoleba mewujudkan soliditas ‘Taan Tou’.” Sebuah seruan untuk tetap bersatu, saling menguatkan, dan berjalan bersama dalam menghadapi tantangan.

 

Di bawah langit Lewoleba yang cerah, tanpa gemuruh demonstrasi, para buruh menunjukkan bahwa perjuangan juga bisa disampaikan dengan cara yang tenang namun tetap bermakna. Di situlah letak kekuatannya: sederhana, tulus, dan manusiawi.**ProkompimPemKabLembata**

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *