Waduh Sadis.! MBG di Lembata, Sajikan Menu Ada Ulat Untuk Anak TK Negeri 3 di Lembata

Beberapa kasus temuan ulat dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial, yang terjadi di berbagai daerah seperti Bangkalan, Sikka (NTT), Malang, dan Tuban tahun (2025-2026). Temuan ini mencakup ulat pada nasi, sayuran, buah jambu, hingga puding. Kali ini di kabupaten terjadi lagi di MBG 01 Lembata ada 7 Omprengan keluar ulat dan bau busuk dari daging. 

Hal itu sungguh memicu desakan evaluasi total terhadap standar higienitas para vendor. Kasus ini menjadi kekhawatiran orang tua dan desakan untuk para Vendor agar lebih jelih dalam meningkatkan pengawasan yang lebih ketat terhadap  kualitas makanan sebelum disajikan kepada siswa.

 

Peristiwa ulat dalam menu MBG di TK Negeri 01 ini Sungguh menghebohkan jagat Lembata dan diluar dugaan Kejadian ini akhirnya memicu pertanyaan publik terhadap pemilik Dapur MBG 01 di kabupaten Lembata apakah sudah resmi mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi

(SLHS) atau belum?

 

Informasi yang dihimpun media ini, kamis 16 April 2026 ada terdapat Ulat yang menempel dan menjalar pada daging ayam dalam menu makan anak siswa TK di Lembata. 

 

Menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak TK Negeri 3 Nubatukan di Lamahora ini terdapat ulat dalam daging. Bukan saja ulat menu itu sudah tidak layak dikonsumsi karena rusak dan ada aroma bau busuk bahkan ulat sedang bergerak keluar dari dalam daging ayam.

 

Kejadian ulat dalam menu MBG ini sungguh mengejutkan Siswa dan para guru TK Negeri 03 Nubatukan Lamahora, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur,”ada ulat dalam daging pada menu MBG yang dibagikan di sekolah TK Negeri 3 Nubatukan Lembata.

 

“Ulat terlihat menempel dan menjalar pada daging ayam yang menjadi salah satu menu makan siswa.

 

Melihat kejadian ini, salah seorang guru lalu merekam dalam video dan menjadi viral di beberapa WAG warga NTT.

 

Dalam video yang beredar di media sosial, tampak terdapat beberapa ulat berwarna putih bergerak di potongan daging ayam, kamis 16 April 2026.

 

“Ini ulat, ada banyak dalam daging. Ada lima enam ulat di dalam daging ayam menu MBG hari ini”, tutur suara dalam video yang berdurasi beberapa detik ini.

 

Hingga berita ini diturunkan belum ada klarifikasi dari dapur MBG yang memberikan pelayanan MBG di TK Negeri 3 Lamahora yaitu dari SPPG 01 Lamahora.

 

Kepala TK Negeri 03 Nubatukan, Rosafina Gunu kepada media  meminta pihak SPPG 01 Lamahora untuk harus bisa segera  melakukan penjelasan langsung di sekolah TK Negeri 3 Nubatukan Lewoleba Lembata.

 

Dapur MBG di Lembata sudah Kantongi SLHS? 

Kejadian adanya ulat dalam menu MBG di Lembata bukan baru pertama kali Namun sudah beberapa kali terjadi bahkan ditemukan ada rambut dalam makanan yang disajikan.

 

Kejadian ini tentu memicu pertanyaan bahwa apakah Dapur MBG di Lembata sudah kantongi SLHS-Sertifikat Laik Higiene Sanitasi?

 

Untuk memastikan makanan yang disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) aman dan layak dikonsumsi, pemerintah mewajibkan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

 

Sertifikat ini sangat penting untuk menjadi bukti bahwa tempat pengolahan makanan memenuhi standar kebersihan dan sanitasi sesuai aturan yang ditetapkan oleh dinas kesehatan daerah.

 

SLHS bukan sekadar formalitas. Sertifikat ini dikeluarkan sebagai tanda kelayakan higienitas sebuah dapur atau tempat pengelolaan pangan.

 

Dengan adanya SLHS, pemerintah ingin memastikan bahwa setiap makanan yang disajikan kepada masyarakat, terutama anak-anak sekolah penerima program MBG, benar-benar higienis dan tidak menimbulkan risiko penyakit.

 

Untuk mendapatkannya, SPPG dapat mengajukan permohonan ke dinas kesehatan kabupaten atau kota dengan melengkapi seluruh persyaratan. Setelah semua dokumen dinyatakan lengkap, penerbitan SLHS dilakukan paling lama 14 hari kerja.

 

Tujuan utama dari kebijakan ini jelas melindungi konsumen dari risiko penyakit yang disebabkan oleh makanan yang tidak higienis. Karena itu, tidak hanya dapur MBG, tapi juga restoran, jasa boga, depot air minum, sentra jajanan, dan kantin sekolah juga menjadi sasaran penerapan standar SLHS.

 

Vianney K. Burin, Pengelolah dapur MBG 02 Lembata di Longser mengungkapkan pihaknya sudah mengantongi SLHS sebagai syarat utama membuka dapur MBG.

 

“Kita sudah kantongi SLHS karena iri syarat mutlak untuk mendirikan dapur MBG. Semua karyawan sudah dinyatakan sehat dengan standar kesehatan, sanitasi memenuhi syarat”, ungkapnya.

 

Sementara itu Kabid Dinas Kesehatan Lembata, Rosadalima Tuto, menyampaikan bahwa ada empat dapur MBG yang saat ini sudah beroperasi di Lembata sudah memenuhi syarat SLHS.

 

“Semua penjamah makanan sudah mendapat pelatihan terkait higiene sanitasi pangan dan hygiene sanitasi perorangan yang dibuktikan dengan sertifikat. Empat dapur yang sudah beroperasi di Lembata dinyatakan layak”, ungkapnya.

 

Lebih jauh Rosadalima Tuto menjelaskan, SLHS untuk MBG menyatakan semua penjamah makanan sudah periksa kesehatan dan dinyatakan sehat, sudah dilakukan IKL dan dinyatakan memenuhi syarat dan pemeriksaan sampel air dan makanan dan dinyatakan Memenuhi Syarat.

 

Kalau memang semua persyaratan sudah dikantongi MBG,  kenapa masih ada kejadian ulat dalam makanan bahkan berbau  tidak sedap dan bahkan tidak layak konsumsi?.***

 

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *