Tutup Lomba Keagamaan dan perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah di Buyasuri, Wabup Lembata Tekankan Nilai Iman dan Persatuan

Perayaan Idul Fitri 1447 H (Maret 2026) dimeriahkan dengan berbagai lomba keagamaan, diantaranya lomba gema takbir, pawai obor, di berbagai daerah. Kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi dan menyemarakkan malam kemenangan dengan nuansa religius. kegiatan ini menekankan pada syiar Islam, kebersamaan, dan menjaga keamanan/toleransi 

 

Di kabupaten Lembata, kecamatan Buyasuri perayaan hari raya Idul Fitri 1447 Hijriah, masyarakat Kecamatan Buyasuri menggelar berbagai rangkaian kegiatan perlombaan yang sarat dengan nilai keagamaan. Kegiatan keagamaan ini dibaluti nuansa Kebersamaan dan persaudaraan. Momentum Ini tentu menjadi bagian dari upaya memperkuat silaturahmi serta menumbuhkan semangat persatuan di tengah kehidupan bermasyarakat.

 

Sebagai penutup dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Wakil Bupati Lembata, H. Muhamad Nasir, S.Sos., secara resmi menutup kegiatan perlombaan yang berlangsung penuh antusiasme dari masyarakat. Penutupan dilaksanakan di Lapangan Bola Bianana, Desa Atu Walupang, Kecamatan Buyasuri.

 

Acara tersebut dihadiri oleh anggota DPRD Kabupaten Lembata, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lembata, Camat Buyasuri, Kapolsek Buyasuri, para kepala desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) se-Kecamatan Buyasuri, Panitia Hari Besar Islam (PHBI), dewan juri, unsur TNI/Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat, ibu-ibu Majelis Taklim, serta para peserta lomba.

 

Ketua Umum PHBI Kabupaten Lembata, Ismail Usman, S.Sos., dalam sambutannya menyampaikan bahwa makna shaum Ramadan merupakan upaya menata hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus membentuk karakter manusia menjadi pribadi yang paripurna (insan kamil). Ia juga menjelaskan filosofi Lebaran sebagai momentum untuk membuka dan melapangkan hati, mempererat persaudaraan, serta memperkuat silaturahmi.

 

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa seseorang yang berhasil menjalani Ramadan diharapkan memiliki karakter fitri, yakni indah dalam perkataan, baik dalam perbuatan, serta benar dalam sikap. Idulfitri menjadi momentum untuk kembali kepada kesucian, membersihkan diri dari dosa, serta membangun hati yang lapang tanpa dendam dan dengki.

 

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Lembata menekankan pentingnya pembangunan daerah yang tidak hanya berorientasi pada aspek intelektual, tetapi juga harus ditopang oleh kekuatan spiritual. Ia menjelaskan bahwa konsep Iqra dalam konteks ilmiah dimaknai sebagai upaya penelitian, sementara Bismi Rabbik merupakan bentuk penyandaran ilmu kepada Tuhan.

 

Menurutnya, literasi Al-Qur’an memberikan tiga manfaat utama, yakni pencerahan spiritual (enlightenment), pengayaan pemahaman terhadap fenomena alam (enrichment), serta pemberdayaan potensi berpikir (empowerment). Oleh karena itu, integrasi antara ilmu pengetahuan dan iman menjadi sangat penting dalam membentuk manusia yang berkarakter, berintegritas, serta beriman dan bertakwa.

 

Wakil Bupati juga menekankan pentingnya prinsip keseimbangan dan keadilan dalam kehidupan, dimana kepemimpinan harus dijalankan dengan kerendahan hati serta keterbukaan untuk menerima koreksi. Ia menyebut bahwa demokrasi merupakan sistem pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat, sehingga setiap pemimpin memiliki tanggung jawab untuk mengutamakan kepentingan masyarakat.

 

Lebih jauh, ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan memperkuat ukhuwah sebagai fondasi utama dalam membangun Kabupaten Lembata yang mandiri dan berdaya saing, serta menegaskan pentingnya keterbukaan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat sebagai bagian dari praktik demokrasi yang sehat.

 

Menjelang berakhirnya Ramadan, Wakil Bupati bersama Bupati Lembata turut menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin kepada seluruh masyarakat atas segala kekurangan selama menjalankan amanah kepemimpinan.

 

“Kemenangan sejati tidak hanya diraih selama Ramadan, tetapi melalui perpaduan antara kesabaran dan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

 

“Dengan ini, saya secara resmi menutup seluruh rangkaian kegiatan perlombaan pada perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah ini,” tutupnya.

 

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga mampu memperkuat silaturahmi, persatuan, serta nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat Kecamatan Buyasuri. **ProkompimPemKabLembata**

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *