Masa puasa bulan suci ramadhan 1447 H, di hari ke-23 ini, umat Muslim diajak mengevaluasi diri, mempertahankan konsistensi ibadah (istiqomah), dan tidak kendor melewati Ramadhan yang akan berakhir.
Kali ini safari Ramadhan dilanjutkan ke Desa Leworaja pantai selatan, tepatnya 13 Maret 2026. Tampak Senja perlahan turun di Desa Leworaja, Kecamatan Wulandoni, di pesisir selatan Lembata. Angin laut berhembus lembut melewati pelataran Kantor Desa. malam itu dipenuhi warga. Di hari ke-23 Ramadhan, masyarakat berkumpul dengan wajah penuh harap dalam Safari Ramadhan yang dipimpin Wakil Bupati Lembata, Muhamad Nasir.
Kegiatan ini terpusat di Masjid Al-Muqarrabin Labala itu berlangsung khidmat. Hadir bersama masyarakat, Plt. Camat Wulandoni, Kepala Desa Leworaja, jajaran Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Lembata dan Kecamatan Wulandoni, Ketua DPC Partai NasDem, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.
Suasana malam itu tidak hanya diisi dengan sambutan resmi. Namun disisi dengan ruang dialog yang sederhana dan hangat, Wakil Bupati menyampaikan refleksi yang membuat banyak jamaah tersenyum—tentang sosok yang sering kali tidak disadari perannya dalam kehidupan: para ibu.
Menurutnya, “banyak laki-laki berdiri di berbagai posisi hari ini berkat perhatian dan pengorbanan seorang ibu”.
Ia menggambarkan bagaimana perempuan sering menjalankan banyak peran sekaligus. Ketika seorang laki-laki sakit kepala sedikit saja, ia cenderung mengeluh dan ingin dilayani. Sementara para ibu, bahkan ketika tidak sehat, tetap bangun memasak dan mengurus keluarga.
Ia mengatakan bahwa dari seribu orang mungkin tidak sampai sepuluh laki-laki yang benar-benar merawat istrinya ketika sakit. Ia bahkan mengakui dirinya sendiri masih jarang melakukan hal itu. Ucapan jujur tersebut disambut tawa ringan para jamaah yang hadir.
Di tengah kehangatan dialog, Wakil Bupati juga menyampaikan salam dari Bupati Lembata yang sedianya hadir, namun baru tiba di Pelabuhan Lewoleba menjelang sore.
Meski tidak hadir secara langsung, pesan Bupati disampaikan dengan sederhana: hati dan doa beliau tetap bersama masyarakat yang berkumpul malam itu.
Ramadhan, menurut Wabup Nasir, bukan hanya soal memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memperkuat hubungan sesama manusia. Ia mengajak masyarakat melihat Ramadan sebagai momentum membangun energi kebersamaan dan kolaborasi.
Dalam penjelasannya, ia bahkan mengutip cara berpikir Bung Karno yang pernah menggunakan logika matematika untuk menggambarkan pentingnya persatuan bangsa. Seperti bilangan pecahan yang berbeda tidak bisa dijumlahkan jika penyebutnya tidak sama, begitu pula bangsa Indonesia yang beragam suku dan agama membutuhkan satu penyebut yang sama yakni,”Pancasila.
Melalui semangat kebersamaan itulah, pada malam Safari Ramadhan tersebut juga disalurkan sekitar dua ribu paket bantuan dengan nilai hampir tiga ratus juta rupiah. Bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Ibu Yuni Damayanti dari Partai NasDem, Majelis Ulama Indonesia, dan Pemerintah Kabupaten Lembata sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat.
Bedug magrib akhirnya terdengar dari masjid. Suasana yang semula dipenuhi percakapan perlahan menjadi hening. Warga bersama para tamu kemudian berbuka puasa dan melanjutkan shalat Magrib berjamaah.
Namun di tengah kebersamaan itu, terselip pula suara harapan dari masyarakat. Kepala Desa Leworaja, Bora Muhammad, menyampaikan kegelisahan warga terkait kondisi jalan yang rusak. Jalan tersebut menjadi jalur penting bagi aktivitas masyarakat, namun kondisinya membuat perjalanan menjadi sulit.
Wakil Bupati mendengarkan dengan serius. Ia menegaskan bahwa pemerintah menerima setiap kritik dan aspirasi yang disampaikan masyarakat. Berbagai persoalan yang ada, katanya, sedang diupayakan penyelesaiannya agar dapat terjawab secara bertahap sesuai kemampuan daerah.
Malam pun semakin larut. Acara Safari Ramadhan ditutup dengan pembagian parcel kepada masyarakat yang telah disiapkan oleh Partai NasDem bekerja sama dengan MUI Kabupaten Lembata.
Di pesisir selatan Lembata itu, Ramadhan tidak hanya menghadirkan kebersamaan dalam berbuka puasa. Ia juga membawa cerita tentang penghormatan kepada ibu, tentang persatuan di tengah perbedaan, dan tentang harapan masyarakat kecil yang ingin didengar.
Dari Leworaja, doa dan harapan mengalir bersama angin laut pelan, namun penuh keyakinan.**ProkompimPemKabLembata**