Penjabat Bupati Lembata, Paskalis Ola Tapobali ketika tiba di Lembata menyempatkan dirinya nyekar ke lokasi Statemen 7 Maret 1954 di Wai Lirang, Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Jumat (31/5).
Kali ini dia datang sebagai Penjabat Bupati Lembata untuk memohon restu para leluhur tokoh perintis perjuangan otonomi daerah tahun 1954.
Tujuan dari pada Kunjungan ke lokasi Statement 7 Maret ini untuk mendapatkan restu dan spirit perjuangan para tokoh Lembata yakni semangat ‘Taan Tou’ spirit ini dijadikan sebagai suluh kepemimpinan dalam menjalankan roda pemerintahan dan mensejahterakan masyarakat Kabupaten Lembata.
Informasi yang dihimpun, kunjungan saat itu diawali dengan sapaan adat, minum tuak dan isap tembakau mewarnai rangkaian acara seremonial ini. Setelah itu, Pj Bupati bersama Pj Ketua TP PKK bakar lilin di tugu prasasti.
Pada momen ini, tokoh adat yang memandu acara menyampaikan bahasa adat untuk para leluhur, tokoh pejuang kemerdekaan otonomi daerah. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sapaan singkat dari Pj Bupati Paskal Tapobali.
Penjabat bupati Lembata, Paskalis Ola Tapobali dalam sapaan singkatnya mengatakan kunjungan dirinya sebagai penjabat bupati Lembata untuk meminta restu dari para tokoh pencetus Lembata.
“Ini bukan bagian dari pencitraan karena saya tidak memiliki kepentingan untuk maju dalam pilkada, tetapi saya punya kepentingan sebagai regenerasi penerus Lembata, bersama kita semua yang hadir di sini untuk datang mengingat, menggelora dan menghidupkan kembali apa yang sudah di cetuskan oleh para penjasa itu,” ungkap PJ bupati Paskalis Tapobali.
Lanjutnya, “Kenapa kita masih berpisah, kenapa kita masih pecah. Banyak tugas ke depan yang harus kita Taan tou, kalau kita tercerai berai, sudah pasti yang korban adalah masyarakat,” kata Paskal Tapobali.
“Maka saya mengajak kita ke sini untuk merefleksikan semuanya itu. 7 Maret kemarin kita buat di sini. Hari ini kebetulan saya dipercayakan untuk melanjutkan kepemimpinan ini, maka saya kembali mengajak kita supaya tidak ada perbedaan, perpecahan di antara kita, sehingga tadi saya mengajak teman-teman semua mengambil bagian memasang lilin, itu sebenarnya simbol untuk meminta restu supaya kita kembali menguatkan komitmen bersama para penjasa, pencetus 7 Maret untuk kembali Taan tou, Poinnya di situ,” sambung Paskal Tapobali.
Sebagai masyarakat yang berbudaya, bermartabat, terang Paskal, kita harus mengingat kembali, mengenang apa yang mereka sudah hadirkan nilai-nilai dasar falsafah untuk kita.
“Hari ini bukan sebuah kebetulan tetapi karena refleksi yang panjang, refleksi pribadi dan bukan juga karena peristiwa apapun. Hari ini murni, saya mau mengajak kita semua untuk mari kita bersama-sama “Taan tou” urus Lembata ini. Mengingatkan kepada kita semua dan pulang kita kerja dengan suka cita, masyarakat juga hidup dengan suka cita dan damai,” pungkas Paskalis Tapobali, penjabat bupati Lembata
Dari lokasi Statemen 7 Maret 1954, Wai Lirang, Pj Bupati bersama Ny. Maria Anastasia Bara Baje diarak ke lokasi wisata Pantai Desa Hadakewa untuk rileks sebentar sebelum kembali ke kota Lewoleba. *Humas Setda Lembata