Serangan Fary Ke Jokowi, Ibarat Orang Melek Yang Sengaja Buta Di Siang Bolong

KUPANG, AKTUALITA NTT
Kritikan Ketua Komisi V DPR RI,  Fary Djemy Francis, yg adalah juga anggota DPR RI dari partai Gerindra, bahwa percepatan pembangunan infrastruktur yang sedang gencar-gencarnya dilakukan pemerintahan Jokowi-Jk adalah untuk pencitraan, terus mendapat kritik dan kecaman luas dari masyarakat. Terutama di NTT. 
Pantauan media ini, di media sosial facebook misalnya, kecaman untuk Fary masih bersahutan. Selain menyebut Fary tidak objektif, karena di NTT, yang juga Dapil-nya Fary, bahkan hingga Papua dan Sulawesi, Jokowi sudah adil dengan membangun banyak infrastruktur. Di mana pembangunan itu effek elektoralnya, turut dinikmati juga oleh para anggota DPR RI, karena mereka juga sering mengklaim itu sebagai buah perjuangan mereka. Fary juga dinilai menerapkan standar ganda karena sebagai anggota DPR, dirinya juga sering ikut bersama Menteri meresmikan infrastruktur di NTT tapi sekarang baru balik menyebut itu sebagai pencitraan. Ada juga yang menilai, di saat para teroris menyerang dan membunuh para polisi di tahanan Mako Brimob, Fary diam. Tetapi kepada Presiden Jokowi yang sedang berjuang mengatasi masalah infrastruktur di NTT, yang sudah mangkrak puluhan tahun, justru disebut pencitraan. Beberapa warga yang dimintai komentar, mengaku sedih dengan pernyataan Fary. Mereka menyebut Fary ibarat orang melek yang sengaja tidak melihat di siang bolong. Atau orang mengerti yang sengaja untuk tidak rasional dalam memberi penilaian. Justru secara membabi-buta menyerang Jokowi hanya karena Jokowi adalah lawan politik Gerindra. 
Ketika mengatakan bahwa
pembangunan infrastruktur Jokowi bertujuan untuk pencitraan, menurut warga, Fary sebenarnya menipu diri sendiri karena selama ini selalu hadir dalam acara peresmian dan kunjungan menteri terkait pembangunan infrastruktur di NTT. Artinya, Fary juga mendapat manfaat secara politik. 
Pantauan media ini, dalam berbagai diskusi baik di Group Whatsap maupun Group Facebook, kata-kata Fary dalam diskusi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), bahwa, “Pembangunan infrastruktur untuk siapa, yang pertama untuk pencitraan.” Terus menuai kecaman.
Terbaru, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, juga angkat bicara. Gubernur yang selama tiga tahun terakhir sangat gencar memperjuangkan pembangunan infrastruktur di NTT, melalui jalur komunikasi plus kedekatan emosional dengan Jokowi ini mengaskan, serangan ke Jokowi, adalah sama dengan menyerang para pendukungnya di NTT. Karena bagaimana pun juga, Jokowi adalah Presiden yang sangat dicintai masyarakat NTT. Jokowi sendiri membuktikan perhatiannya untuk NTT, dengan sudah delapan kali mengunjungi NTT. Karena itu, menurut Gubernur dua periode ini, 
“Orang NTT dari partai oposisi yg menyerang Jokowi, tidak pantas dipilih rakyat NTT. Karena di jaman Jokowi, NTT merasakan pembangunan yg luar biasa. Stop percaya mereka, ” kata Lebu Raya.
Menurut Frans, semua orang juga paham bahwa apabila Jokowi hanya bangun untuk pencitraan, beliau akan menyasar daerah-daerah padat penduduknya supaya ada effek elektoral saat Pilpres. Faktanya adlah Jokowi justru membangun juga di daerah seperti NTT dan Maluku, juga Papua, yang secara eletoral hanya punya sedikit suara. “Apabila Jokowi bangun infrastruktur demi pencitraan, beliau tdk perlu bangun NTT dan Papua. Cukup bangun di wilayah yg penduduknya buanyak,” beber Frans. Karena itu, pernyataan yang datang dari orang NTT sangat disayangkan. Sebab NTT sedang merasakan perhatian Jokowi.
“Di pilpres thn 2014 Jokowi menang 72% di NTT. Artinya rakyat NTT menyukai Jokowi. Itu di saat Jokowi belum buat apa-apa utk NTT. Apalagi saat ini rakyat NTT sudah merasakan pembangunan oleh pak Jokowi. Menyerang Jokowi sama dengan mennyerang pendukungnya yg besar di NTT,” tutup Frans memberi warning. (Mic, Gusty, Eman)