Seminar Tanpa Dinding di Puncak Fatumnasi

Aktualita-ntt.com,Kupang- “Seminar Tanpa Dinding” Kajian kearifan lokal dalam penggunaan alat seni budaya pada masyarakat Mollo yang digelar Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) TTS dan Balitbangda Provinsi NTT, di Fatumnasi Kabupaten TTS, disambut hangat masyarakat setempat, Selasa (5/11/2017).

Para rombongan seminar yang tiba di lokasi kegiatan sekitar jam 13.00 WIT, diterima dengan bahasa adat Natoni dan tarian sambut. Warga merasa kehadiran tim Litbang Provinsi, dan Litbang Kabupaten TTS menjadi kehormatan dan momen yang tak terlupakan dalam budaya adat Fatumnasi.

“Ini penghargaan bagi kami. Momen penting yang tidak dilupakan dalam pengenalan dan pengembagan akan budaya Mollo dalam era moderen,” ungkap Camat Fatumnasi Dominikus CHR Manu.

Menurut Dominikus, di zaman sekarang seni dan budaya telah tergerus oleh pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian maju. Sehingga dengan penelitian budaya Mollo ini, dapat memberikan motivasi bagi masyarakat untuk menjaga dan mengembangkan seni dan budaya Mollo.

“Zaman sekarang kita lupa, dan meninggalkan budaya kita dalam kehidupan sehari-hari. Semoga hasil penelitian menjadi dokumen untuk kembangkan Fatumnase menjadi destinasi wisata,” harap Dominikus.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi NTT, Thomas Bangke mengatakan, penelitian budaya Mollo yang dilakukan Litbang menarik dan aktual karena merupakan budaya warisan leluhur yang harus dijaga, dikembangkan dan dihidupkan.

“Budaya Warisan leluhur dan ini adalah identitas dari pada masyarakat di sini. Masyarakat Timor punya budaya yang luar biasa. Dari bahasa tutur diangkat sebagai sebuah penelitian ilmiah agar diikuti generasi mendatang,” ungkap Thomas.

Thomas berharap, setelah kajian ini, budaya Mollo bisa dikenal dunia. Dan lebih penting budaya ini dapat diturunkan ke generasi mendatang.

“Kami akan bantu budaya Mollo dikenal dunia, akan bisa dibaca melalui online dan medsos. Dan harus diingat bahwa pariwisata akan maju kalau budaya kita tetap terpelihara,” harap Thomas.

Moderator Seminar Dr. Leri Yusup Rupidara menambahkan bahwa kearifan lokal seni budaya adalah sesuatu yang sangat penting. Sehingga budaya sebagai kearifan lokal diperlukan pemerintah.

“Kearifan lokal diperlukan pemerintah. Pemerintah itu soal pengetahuan bukan kekuatan fisik. Oleh karena itu pemda TTS menyediakan anggaran untuk meneliti hal ini,” kata Rupidara.

Dikatakannya, negara maju sekalipun ditunjukan lewat alat seni,tarian, syair, dan
tenunan. Semua ini mempunyai makna yang mendalam, dan sebagai simbol dari seremoni adat.

“Mollo milik bapa mama bukan milik Litbang. Seni ini sudah ada pada bapa mama. Tulisan hasil penelitian ini membantu bapa, mama untuk memahani budaya dalam diri,” jelas Rupidara.(Alvin Lamaberaf)